Bukan Mesin Pembunuh
Brimob, dengan segala keahliannya, sebenarnya tidak dimaksudkan menjadi “mesin pembunuh” dalam menghadapi rakyat sendiri. Peran utamanya justru lebih banyak terkait keamanan negara, operasi anti-teror, hingga penanggulangan kejahatan terorganisir.
Mengawal demo seharusnya lebih banyak ditangani oleh satuan Sabhara atau polisi lalu lintas. Brimob hanya dikerahkan jika situasi sudah darurat dan berpotensi mengancam keselamatan publik secara luas.
Harapan ke Depan
Agar citra Brimob tidak terus tercoreng, ada beberapa poin penting yang diharapkan:
Baca Juga:5 Tuntutan Demo Mahasiswa Hari Ini, Soroti Kasus Ojol Tewas Ditabrak BrimobSpesifikasi Rantis Brimob yang Tabrak Ojol Hingga Meninggal Saat Demo Buruh
Evaluasi dan Reformasi SOP → penggunaan kekuatan harus sesuai standar HAM.Peningkatan Transparansi → setiap operasi pengamanan demo harus bisa diawasi publik.Peningkatan Kapasitas Dialog → pendekatan persuasif lebih diutamakan dibanding represif.
Dengan langkah-langkah ini, Brimob dapat kembali dilihat sesuai jati dirinya: pasukan elite yang berdiri untuk keamanan negara, bukan alat represi terhadap rakyat.
Brimob adalah satuan khusus Polri dengan sejarah panjang dan fungsi vital bagi Indonesia. Namun, perannya tidak boleh direduksi hanya sebagai aparat pengendali demo dengan kekerasan.
Sebagai bagian dari institusi penegak hukum, Brimob seharusnya menjadi penjaga keamanan negara, bukan mesin pembunuh rakyatnya sendiri. Penegasan kembali fungsi dan reformasi pola pengamanan massa akan menjadi kunci agar Brimob tetap dihormati, bukan ditakuti. (**)