Rekapan Pernyataan Pejabat yang Kontroversial, dari Ahmad Sahroni Hingga Sri Mulyani

Ahmad Sahroni
Ahmad Sahroni Wakil Ketua Komisi III DPR (foto: ANTARA)
0 Komentar

KURASI MEDIA – Salah satu tugas mulia anggota DPR adalah menyalurkan aspirasi rakyat dan memastikan bahwa setiap peraturan yang dibuat tidak merugikan rakyat.

Namun, bagaimana jadinya jika sebuah lembaga yang semestinya mewakili rakyat justru mengeluarkan narasi yang tidak selaras dengan kepentingan rakyat? Berikut rekapan pernyataan kontroversial dari pejabat publik.

Rekapan Pernyataan Pejabat yang Kontroversial

1. Ahmad Sahroni – Wakil Ketua Komisi III DPR

“Apakah membubarkan DPR meyakinkan masyarakat bisa menjalani proses pemerintahan saat ini? Belum tentu. Silakan kritik, mau ngapain aja boleh. Tapi jangan mencaci maki berlebihan karena merusak mental. Mental manusia begitu adalah mental orang tertolol sedunia.”

Baca Juga:5 Tuntutan Demo Mahasiswa Hari Ini, Soroti Kasus Ojol Tewas Ditabrak BrimobLokasi SIM Keliling Bandung Hari Ini, Jumat 29 Agustus 2025

2. Adies Kadir – Wakil Ketua DPR

“Kalau sekitar sini ngontrak atau kos kan 3 juta per bulan, yang didapat kan 50 juta per bulan, kalau 3 juta kita kalikan 26 hari kerja berarti 78 juta per bulan. Padahal yang didapat cuma sekitar 50 juta per bulan, jadi mereka masih nombok lagi. Nanti kita pikirkan, kalau memang masih dikira 50 juta terlalu besar teman-teman (DPR) kita himbau, cari kos-kosan yang kira-kira 1 juta-an lah, kamar mandi luar atau seperti apa gitu.”

3. Nafa Urbach – Anggota Komisi IX DPR

“Anggota dewan itu diwajibkan untuk kontrak rumahnya di dekat Senayan supaya memudahkan mereka menuju DPR. Saya aja yang tinggalnya di Bintaro itu macetnya luar biasa, ini udah setengah jam di perjalanan masih macet.”

4. Sri Mulyani – Menteri Keuangan RI

“Banyak di media sosial menjadi dosen, guru, tidak dihargai karena gajinya besar. Ini juga salah satu tantangan bagi Negara. Apakah semuanya harus keuangan Negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat?”

5. Rahayu Saraswati – Wakil Ketua Komisi VII DPR

“Jika punya kreativitas, jadilah pengusaha daripada ngomel nggak ada kerjaan, bikin kerjaan buat temen-temen lu. Kalau bisa mask, bikin bisnis kuliner. Bisa jahit, bikin bisnis fesyen. Edit video, jadilah editor. Jika masih bersandar kepada Pemerintah untuk provide job kita masih di zaman colonial berarti.”

0 Komentar