Dan pada puncaknya, beliau SAW berkesempatan menghadap dan bermunajat secara langsung kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam semesta.
Pada peristiwa itulah terjadi momen yang sangat krusial dalam sejarah Islam, yaitu diturunkannya perintah Shalat.
Oleh karena itu, Shalat menempati kedudukan yang sangat istimewa di antara seluruh bentuk ibadah.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini, Rabu 14 Januari 2026
Berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya yang diturunkan Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril.
Puasa, misalnya, diwajibkan melalui firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 dengan perantaraan Malaikat Jibril.
Demikian pula kewajiban zakat, haji, dan berbagai ketentuan syariat lainnya, semuanya disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Adapun kewajiban Shalat, Allah SWT memanggil langsung Baginda Nabi Muhammad SAW untuk menghadap kepada-Nya, tanpa perantara, guna menerima perintah Shalat lima waktu.
Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 216 menjelaskan:
وَفِي اخْتِصَاصِ فَرْضِيَّتِهَا بِلَيْلَةِ الإِسْرَاءِ إِشَارَةٌ إِلَى عَظِيمِ شَأْنِهَا، وَلِذَلِكَ اخْتُصَّ فَرْضُهَا بِكَوْنِهِ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ، بَلْ بِمُرَاجَعَاتٍ تَعَدَّدَتْ
Artinya, “Kewajiban Shalat yang secara khusus ditetapkan pada malam Isra dan Mi‘raj menunjukkan betapa agung dan mulianya kedudukan Shalat.
Oleh karena itu, kewajibannya ditetapkan tanpa perantara malaikat, bahkan melalui beberapa kali dialog yang berulang.”
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Baca Juga:Jadwal Persib Setelah Taklukkan Persija, Hadapi Dua Laga Berat Sebelum PuasaRekap Hasil Pekan 17 Super League: Persib Jadi Juara Paruh Musim
Shalat merupakan ibadah yang paling mulia. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Ketika seorang mukmin menunaikan Shalat, pada hakikatnya ia sedang berdiri menghadap Allah SWT, bermunajat dengan kalam-Nya, serta menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada-Nya.
Oleh sebab itu, Shalat sering disebut sebagai Mi‘rajnya orang-orang beriman. Dalam kitab Tafsir Al-Wasith juz 2 halaman 1080, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
أَمَّا الصَّلَاةُ فَهِيَ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ، وَصِلَةُ الْوَصْلِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِالتَّوَجُّهِ نَحْوَ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ فِي أَوْقَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ
Artinya: Adapun Shalat, maka ia adalah mi‘rajnya orang beriman, penghubung antara seorang hamba dengan Allah SWT, serta sarana menikmati kelezatan beribadah dengan menghadapkan diri kepada Zat Yang Mahatinggi pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Oleh karena itu, ketika melaksanakan Shalat, kita dituntut untuk benar-benar menghayati setiap bacaan dan gerakan yang kita lakukan.
Pada saat itu, sesungguhnya kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bermunajat dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT pada peristiwa Mi‘raj.
