Teks Khutbah Jumat 16 Januari 2026: Isra Miraj, Gelar Kemuliaan Nabi Muhammad dan Kewajiban Shalat

Teks Khutbah Jumat
Teks khutbah Jumat Isra Miraj. (Pixabay/Mohamed_hassan)
0 Komentar

Sebab tidak ada gelar yang lebih tinggi dibandingkan penghambaan diri kepada Allah swt. Syekh Ahmad Al-Sawi dalam Hasyiyah As-Shawi ala Tafsirul Jalalain jilid II, hal 311 berkata:

(قَوْلُهُ بِعَبْدِهِ) لَمْ يَقُلْ بِنَبِيِّهِ وَلَا بِرَسُوْلِهِ إِشَارَةً عَلَى أَنَّ وَصْفَ الْعُبُوْدِيَّةِ أَخَصُّ الْأَوْصَافِ وَأَشْرَفُهَا لِأَنَّهُ إِذَا صَحَّتْ نِسْبَةُ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ بِحَيْثُ لَا يُشْرِكُ فِيْ عِبَادَتِهِ لَهُ أَحَدًا فَقَدْ فَازَ وَسَعِدَ

Artinya: “(Firman Allah biabdihi): Allah tidak menggunakan kata Nabi ataupun Rasul menunjukan bahwa sifat ubudiyyah, penghambaan merupakan sifat yang paling istimewa dan mulia. Karena ketika seorang hamba telah diberi pangkat demikian dan tidak melakukan kemusyrikan maka ia telah mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan”.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

Sekembalinya dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad saw. tidak hanya dianugerahi gelar tertinggi sebagai hamba Allah, tetapi juga membawa sebuah kewajiban agung bagi umatnya, yaitu salat lima waktu.

Baca Juga:5 Menit Sebelum Berkendara, Cek Motor Dulu Biar AmanFrans Putros Kasih Kisi-Kisi Soal Ratchaburi FC, Minta Persib Waspada

Kewajiban ini menjadi oleh-oleh spiritual yang paling berharga bagi seluruh kaum muslimin.

Terdapat banyak hikmah di balik diwajibkannya salat lima waktu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut.

Salah satu hikmah itu dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam karyanya Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Jilid I, halaman 460. Ibnu Hajar Al-Asqallani berkata:

وَالْحِكْمَةُ فِي وُقُوعِ فَرْضِ الصَّلَاةِ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ أَنَّهُ لَمَّا قُدِّسَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا حِينَ غُسِلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ بِالْإِيمَانِ وَالْحِكْمَةِ وَمِنْ شَأْنِ الصَّلَاةِ أَنْ يَتَقَدَّمَهَا الطَّهُورُ نَاسَبَ ذَلِكَ أَنْ تُفْرَضَ الصَّلَاةُ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ وَلِيَظْهَرَ شَرَفُهُ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى وَيُصَلِّي بِمَنْ سَكَنَهُ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَبِالْمَلَائِكَةِ وَلِيُنَاجِيَ رَبَّهُ وَمِنْ ثَمَّ كَانَ الْمُصَلِّي يُنَاجِي رَبَّهُ جَلَّ وَعَلَا

Artinya: “Hikmah diwajibkannya salat pada malam Mi‘raj adalah karena ketika Nabi Muhammad telah disucikan lahir dan batin, saat Rasulullah dicuci dengan air Zamzam yang disertai iman dan hikmah, sedangkan shalat itu sendiri mensyaratkan adanya penyucian sebelumnya. Maka sangatlah sesuai jika salat diwajibkan pada keadaan tersebut. Hal itu juga agar tampak kemuliaan Nabi di hadapan makhluk-makhluk di alam tertinggi, agar menjadi imam shalat bagi para nabi yang berada di sana serta para malaikat, dan agar beliau bermunajat kepada Tuhannya. Dari sinilah kemudian dipahami bahwa orang yang melaksanakan shalat sejatinya sedang bermunajat kepada Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi.”

Jamaah yang dimuliakan Allah Swt.,

Demikianlah sebagian hikmah dari peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad, khususnya terkait diwajibkannya shalat lima waktu.

Shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana munajat dan komunikasi seorang hamba dengan Allah Swt., Tuhan Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.

0 Komentar