Sikap saling memaafkan merupakan salah satu perintah Allah Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Artinya, Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf (hal yang baik), dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al A’raf. Ayat 199)
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid, jilid 1, halaman 413 mengutip pendapat sahabat Ikrimah. Ia menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW bertanya, “Wahai Jibril, apa maksud ayat ini?” Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, Tuhanmu memerintahkan agar engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan memaafkan orang yang telah menzalimimu.”
قَالَ عِكْرِمَةُ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ قَالَ ﷺ: «يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟». قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَقُولُ هُوَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ»
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini, Jumat 6 Februari 2026DJP Bongkar Dugaan Pelanggaran Pajak Tiga Wajib Pajak Industri Baja di Tangerang
Artinya: Dari ‘Ikrimah, ketika ayat ini turun, Nabi SAW bersabda: “Wahai Jibril, apa ini?” Jibril menjawab: “Wahai Muhammad, Tuhanmu berfirman, yaitu hendaklah engkau menyambung (hubungan) dengan orang yang memutuskan (hubungan denganmu), engkau memberi orang yang tidak memberi (kepadamu), dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu.”
Lebih jauh, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa para ulama berpendapat penjelasan yang disampaikan Jibril selaras dengan makna ayat tersebut.
Menyambung kembali hubungan dengan orang yang memutuskannya merupakan wujud sikap pemaaf. Memberi kepada orang yang tidak memberi adalah bentuk nyata dari perbuatan baik.
Sementara itu, memaafkan orang yang telah menzalimi berarti memilih untuk berpaling dari sikap dan perilaku orang-orang yang bodoh.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah
Pada hakikatnya, menjadi pribadi yang pemaaf adalah bagian dari upaya kita mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Beliau telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal memaafkan.
Rasulullah SAW selalu memaafkan kesalahan orang lain, bahkan ketika Nabi sendiri menjadi korban. Baginda tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian, melainkan selalu memilih jalan memaafkan.
Memaafkan bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan. Sebaliknya, maaf lahir dari jiwa yang besar dan hati yang kuat.
Baca Juga:Teks Khutbah Jumat 6 Februari 2026: Waspada Terhadap Istidraj, Hidup Terasa Mudah Tapi Hati Semakin Jauh15 Kode Redeem Free Fire 5 Februari 2026, Dapatkan Skin Langka dan Bundle Eksklusif Secara Gratis!
Orang yang pemaaf bukan hanya menang atas orang lain, tetapi juga berhasil mengalahkan hawa nafsunya sendiri, nafsu yang mendorong untuk marah, membalas dendam, merasa paling benar, dan merendahkan orang lain.
