“Kami tetap mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif dengan risiko yang terukur, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus berlanjut secara berkesinambungan,” ujar Darwisman.
Berdasarkan kegiatan usaha, perbankan masih didominasi oleh jenis usaha konvensional dengan market share Aset, DPK, dan Kredit masing-masing sebesar 90,30 persen (Rp953 triliun), 89,40 persen (Rp671 triliun), dan 88,58 persen (Rp922 triliun). Adapun sisanya merupakan jenis usaha Syariah.
Sedangkan, Berdasarkan fungsinya, perbankan di Jawa Barat per Januari 2026 didominasi oleh Bank Umum dengan market share Aset, DPK, dan Kredit masing-masing sebesar 96,76 persen (Rp1.021 triliun), 96,94 persen (Rp728 triliun), dan 97,63 persen (Rp1.016 Triliun). Adapun sisanya merupakan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS).
Baca Juga:OJK Jawa Barat: Kredit UMKM dan KUR Tumbuh Dorong Ekonomi Jawa BaratMember AMG Pantheon Salahkan OJK dan Satgas PASTI Karena Blokir Website Sebelum Pencairan
Per Januari 2026, total aset BPR & BPRS di Jawa Barat mencapai Rp34,24 triliun, tumbuh 4,92 persen YoY (Rp1,60 triliun). Dana Pihak Ketiga (DPK) BPR & BPRS sebesar Rp22,98 triliun, tumbuh 6,33 persen YoY (Rp1,37 triliun). Realisasi penyaluran kredit sebesar Rp24,69 triliun, tumbuh 5,99 persen YoY (Rp1,40 triliun). Rasio NPL gross BPR & BPRS di Jawa Barat menunjukan tren memburuk dari 11,86 persen di Januari 2025 menjadi 13,63 persen di Januari 2026. Sedangkan laba BPR dan BPRS mengalami penurunan pada Januari 2026 menjadi sebesar Rp4 miliar atau turun sebesar 85,34 persen secara signifikan dari Rp3 miliar di Januari 2025 (turun Rp2 miliar).
Perkembangan Pasar Modal, PVML, & PPDP
Pada posisi Januari 2026, tingkat inklusi masyarakat terhadap produk pasar modal mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan tercermin dari jumlah Single Investor Identification (SID) di Jawa Barat yang tumbuh sebesar 36,85 persen yoy, dengan porsi terbesar berasal dari reksandana (36,01 persen), saham (37,66 persen), dan SBN (20,81 persen) dengan total SID sebanyak 4.031.296. Sedangkan nilai transaksi saham di Jawa Barat telah mencapai R61,45 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar 146,06 persen yoy.
Pada periode bulan Desember 2025, perkembangan Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan LJK Lainnya (PVML), serta Perusahaan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) di Jawa Barat menunjukan pertumbuhan yang positif. Penyaluran pembiayaan pada Perusahaan Pembiayaan tumbuh 0,25 persen yoy yang semula Rp79,95 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp80,15 triliun pada Desember 2025, dengan rasio NPL sebesar 3,09 persen. Pada periode yang sama, perusahaan Modal Ventura telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp3,20 triliun meningkat 8,29 persen yoy dari posisi Desember 2024 Rp2,95 triliun, dengan rasio NPL sebesar 4,37 persen. Penyaluran Pembiayaan melalui Perusahaan Fintech Peer to Peer Lending sebesar Rp23,94 triliun meningkat 22,39 persen yoy dari posisi Desember 2024 sebesar Rp19,56 triliun, dengan Tingkat Wanprestasi (TWP) 90 hari sebesar 3,29 persen. Sedangkan total aset Dana Pensiun di Jawa Barat pada posisi Desember 2025 meningkat 3,31 persen yoy, dari Rp23,56 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp22,81 triliun.
