Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Momentum bulan Rabiul Awal menjadi saat yang tepat untuk memperbanyak shalawat dengan memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
Peringatan Maulid Nabi merupakan wujud cinta dan penghormatan kepada beliau. Peringatan maulid juga bukan hanya sekadar mengenang kelahirannya, tetapi juga menjadi momentum untuk meneladani sosok penting dalam terciptanya kehidupan dunia ini.
Dalam sebuah lirik Qashidatul Burdah, Imam Al-Bushiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw lah yang menjadi sebab penciptaan dunia.
Baca Juga:Teks Khutbah Jumat 22 Agustus 2025: Dalam Sunyi dan Sepi, Allah Tetap Bersama KitaTeks Khutbah Jumat 22 Agustus 2025: Menjadikan Aktivitas Bekerja Sebagai Ibadah kepada Allah
Hal ini selaras juga dengan sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam kitab Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah halaman 21:
وَكَانَ رَأَى عَلَى قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، سَأَلْتَنِي بِحَقِّهِ أَنْ أَغْفِرَ لَكَ، وَلَوْلَاهُ مَا خَلَقْتُكَ
Artinya: “Nabi Adam AS ketika itu melihat catatan ‘Lâ ilâha illallâh, Muhammadur Rasûlullâh’ pada tiang-tiang Arasy. Allah menjawab; ‘Kau meminta dengan namanya (Nabi Muhammad SAW) agar Aku mengampunimu. Sungguh, kalau bukan karenanya, Aku tidak akan menciptakanmu.’
Dari hadits ini bisa kita pahami bahwa jika bukan karena Nabi Muhammad saw, niscaya Allah takkan menciptakan Nabi Adam.
Jika Nabi Adam tidak diciptakan oleh Allah, maka niscaya keturunan Nabi Adam takkan diciptakan. Pada kenyataannya, Allah menciptakan Nabi Adam As dan anak keturunannya.
Allah juga menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan manusia. Jadi, hanya karena Nabi Muhammad saw Allah menciptakan alam semesta raya ini.
Adapun hadirnya Rasulullah ke muka bumi ini telah di sebutkan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 45-46. Dalam ayat ini dijelaskan lima tugas utama yang diemban Rasulullah sebagai Nabi terakhir. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ ٤٥ وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا
Artinya: “Wahai Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutus engkau untuk menjadi saksi, pemberi kabar gembira, dan pemberi peringatan. dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya serta sebagai pelita yang menerangi.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Baca Juga:Teks Khutbah Jumat HUT RI ke-80: Kemerdekaan Sejati Lahir dari Keadilan Para PemimpinTeks Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: 3 Pilar Islami dalam Mewujudkan Indonesia Maju
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa tugas pertama Nabi Muhammad adalah sebagai شَاهِدًا “Syahidan” (saksi). Maksud dari saksi ini adalah menyaksikan keesaan Allah dan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.