KURASI MEDIA – Potongan lirik lagu “Peradaban” milik .Feast kembali menggema di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar karya musik, lagu ini memuat pesan kuat tentang daya tahan rakyat menghadapi penindasan. Liriknya yang lugas, penuh energi, dan tanpa basa-basi, membuatnya relevan dengan kondisi sosial politik Indonesia saat ini.
“Peradaban” menggambarkan semangat bertahan meski terus dipinggirkan. Seperti pada bait “Nama kita diinjak lagi, bagai keset selamat datang”, lagu ini mencerminkan nasib rakyat kecil yang kerap diabaikan, ditindas, namun tetap berusaha berdiri tegak. Melalui karya ini, .Feast seakan menegaskan bahwa kekuatan bangsa tak hanya terletak pada pembangunan fisik, melainkan pada kesadaran kolektif untuk melawan ketidakadilan yang terus berulang.
Bisa dikatakan, lagu ini adalah semacam manifesto perlawanan. Ia mengingatkan pendengarnya agar tidak menyerah meskipun kenyataan terasa pahit. Di tengah banyaknya suara rakyat yang dibungkam, “Peradaban” hadir sebagai ruang ekspresi bagi kegelisahan sosial. Lagu ini mengajarkan bahwa peradaban sejati hidup di dalam budaya, nilai, serta keberanian rakyat untuk melawan. Tak heran bila generasi muda menjadikannya simbol semangat perlawanan, karena liriknya seolah mewakili suara mereka yang lelah dengan keadaan, tetapi tetap berpegang pada harapan.
Baca Juga:5 Tuntutan Demo Mahasiswa Hari Ini, Soroti Kasus Ojol Tewas Ditabrak BrimobKenapa Donasi Yusuf Mansur untuk Korban Demo Buruh Ramai Dicurigai Warganet?
Sebagai grup musik, .Feast memang dikenal berani mengangkat isu sosial. Dari politik, lingkungan, hingga keresahan generasi muda, mereka kerap melantangkan kritik lewat musik. “Peradaban” menjadi salah satu karya paling menonjol karena mampu merangkum rasa marah sekaligus tekad untuk bertahan. Ketika musik populer banyak bicara soal cinta, lagu ini justru mengajak publik merenungkan nasib bangsa dan rakyatnya.
Pesan yang dibawa lagu ini terasa semakin relevan jika melihat situasi Indonesia hari-hari ini. Gelombang demonstrasi menuntut transparansi tunjangan DPR mencuat justru di bulan kemerdekaan dimana momen yang semestinya dirayakan sebagai kebangkitan, bukan kemunduran. Rakyat hanya menuntut kejelasan dana publik yang dikelola para wakilnya. Namun, yang terjadi justru ketidakjelasan dan besarnya tunjangan DPR semakin memperlebar jurang antara rakyat dan pemimpin.