Gen Z tidak hanya menuntut dari perusahaan, tetapi juga menerapkan cara mereka sendiri untuk menjaga keseimbangan hidup. Beberapa di antaranya:
- Menetapkan Batasan Kerja → Tidak membawa urusan kantor ke rumah, atau mematikan notifikasi kerja di luar jam operasional.
- Mengutamakan Kesehatan → Rajin olahraga, menjaga pola makan, hingga melakukan digital detox.
- Mencari Pekerjaan yang Selaras dengan Nilai Hidup → Gen Z lebih memilih perusahaan yang sejalan dengan prinsip pribadi mereka.
- Menggunakan Teknologi untuk Efisiensi → Memanfaatkan aplikasi task management agar pekerjaan selesai lebih cepat tanpa harus lembur.
- Menekankan Komunikasi Terbuka → Jika beban kerja berlebihan, mereka cenderung berani mengungkapkan kepada atasan.
Dampak Positif Work Life Balance
Jika perusahaan memahami kebutuhan ini, akan ada banyak manfaat, baik bagi karyawan maupun organisasi, seperti:
- Karyawan lebih produktif karena tidak merasa burnout.
- Turnover berkurang, karena karyawan betah dan loyal.
- Citra perusahaan meningkat, sehingga lebih mudah menarik talenta muda.
- Inovasi berkembang, karena karyawan bekerja dalam kondisi yang lebih sehat dan kreatif.
Bagi Gen Z, work life balance bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata agar hidup lebih berkualitas. Mereka menginginkan pekerjaan yang tidak hanya mengisi dompet, tetapi juga memberikan ruang bagi kesehatan mental, keluarga, dan pengembangan diri.
Baca Juga:Tips Sukses Interview Kerja untuk Fresh Graduate: Pertanyaan, Jawaban, dan PenampilanTanda-tanda Burnout dan Cara Mengatasinya dengan Bijak
Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan pola pikir ini akan lebih mudah menarik dan mempertahankan generasi muda yang kini menjadi tulang punggung dunia kerja. (**)