Lebih jauh, ujian kepemimpinan Polri saat ini bukan terletak pada kuat atau lemahnya tekanan wacana publik, melainkan pada kemampuan untuk memutus pola lama dalam merespons kritik. Mahasiswa dan masyarakat sipil tidak menuntut Polri kehilangan wibawanya, tetapi justru mengharapkan Polri menggunakan kewenangannya secara proporsional, demokratis, dan berkeadilan. Wibawa institusi lahir dari keterbukaan terhadap kritik dan keberanian melakukan koreksi.
Oleh sebab itu, kami menilai bahwa pernyataan Kapolri harus diikuti dengan langkah konkret guna mempercepat Reformasi Polri yang substantif. Mulai dari evaluasi pendekatan pengamanan aksi, penegakan akuntabilitas terhadap aparat yang melakukan pelanggaran, hingga pembukaan ruang dialog yang setara dengan mahasiswa dan masyarakat sipil. Tanpa langkah-langkah tersebut, reformasi akan terus berhenti pada slogan, sementara praktik di lapangan berjalan tanpa perubahan berarti.
Sebagai bagian dari generasi muda dan aktivis, kami akan terus mengingatkan bahwa Reformasi Polri merupakan janji yang belum sepenuhnya terpenuhi. Kritik yang disampaikan bukan bertujuan melemahkan institusi, melainkan memastikan Polri benar-benar hadir sebagai alat negara yang profesional, humanis, dan berpihak pada keadilan. Reformasi tidak membutuhkan pernyataan kesiapan mundur, tetapi komitmen nyata untuk berubah secara terukur dan berkelanjutan. (**)
