Teks Khutbah Jumat 13 Februari 2026: Jangan Kehilangan Arah di Tengah Derasnya Arus Kehidupan

Teks Khutbah Jumat
Teks khutbah Jumat tentang kehidupan. (Pixabay/geralt)
0 Komentar

Entah karena sudah terlena dengan aktivitas yang dijalani sehingga tidak ada aktivitas lain selain menyelesaikan pekerjaan utamanya.

Atau ada unsur keberkahan waktu yang mulai dicabut sehingga perputaran rotasi alam menjadi lebih cepat.

Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah..

Selain itu, waktu terasa berjalan semakin cepat seiring dengan perkembangan zaman yang kian canggih.

Baca Juga:Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini, Kamis 12 Februari 2026Dihancurkan Ratchaburi FC, Persib Bawa Misi Berat di Bandung

Kita menikmati berbagai gawai yang dulu tak pernah terbayangkan bisa secerdas hari ini.

Sarana transportasi, baik yang kita gunakan maupun sekadar kita saksikan, membuat jarak terasa semakin dekat dan perjalanan semakin singkat.

Pembangunan gedung pun kini tidak lagi memerlukan waktu lama berkat kecanggihan teknologi dan peralatan yang digunakan.

Semua itu menunjukkan bagaimana sendi-sendi kehidupan kita dituntut untuk dijalani dengan serba cepat: dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, dari satu target ke target berikutnya, dan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Arus kehidupan yang memaksa kita terus bergerak cepat ini sering kali membuat fokus kita hanya tertuju pada pencapaian-pencapaian duniawi semata.

Dengan kata lain, pola pikir kita seolah dibentuk untuk hanya memikirkan apa yang ada tepat di hadapan kita.

Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, bahkan melampauinya demi meraih bonus dan penghargaan, perlahan menumbuhkan rasa candu untuk terus mengulang pola tersebut.

Baca Juga:Link Streaming Ratchaburi FC vs Persib di Leg Pertama 16 Besar ACL Two 2025/2026Tabel KUR BRI 2026 Terbaru Pinjaman Mulai Rp 1 Juta, Cicilan Terendah Dibawah Rp 100 Ribu

Jika pola hidup semacam ini dibiarkan, kita akan terjebak dalam cara berpikir yang pragmatis dan materialistik.

Akibat yang paling berbahaya adalah kita menjadi terlalu sibuk mengurus urusan dunia, sementara urusan akhirat justru terabaikan.

Ma’asyiral muslimin hafidzakumullah..

Menjalani kehidupan seperti itu bukan berarti seseorang pasti meninggalkan kewajiban-kewajiban agama.

Bisa jadi ia masih menunaikan salat, berpuasa, membayar zakat, bersedekah, dan ibadah lainnya.

Namun, ibadah tersebut sering kali hanya dilakukan sebatas formalitas, sekadar untuk menggugurkan kewajiban.

Ketika melaksanakan salat, misalnya, secara fisik ia melakukan gerakan sebagaimana mestinya, tetapi pikirannya justru dipenuhi oleh urusan-urusan dunia.

Hati tidak hadir, kekhusyukan pun menghilang. Karena itulah Allah SWT telah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barang siapa melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi,” (QS. al-Munafiqun: 9).

0 Komentar