KURASI MEDIA – Sepuluh tahun sudah BPJS Kesehatan bermitra dengan masyarakat yang direkrut sebagai perpanjangan tangan informasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dimulai dari akar rumput melalui pendekatan rumah ke rumah hingga jangkauan kelurahan. Kader JKN, begitulah mereka biasa disebut.
Tahun 2026 ini, BPJS Kesehatan Cabang Bandung kembali memperbarui kerja sama dengan 50 Kader JKN yang bertugas di 151 kelurahan se-Kota Bandung. Setiap kader membina satu hingga tiga kelurahan. Salah satunya Rosi Rahmawati, Kader JKN Kelurahan Situsaeur, Cibaduyut dan Mekarwangi.
”Saya bergabung dari awal adanya program Kader JKN. Alhamdulillah tahun ini genap 10 tahun dan masih ingin terus berlanjut setiap tahunnya. Karena saya merasakan sendiri manfaatnya, jadi saya ingin masyarakat juga tertolong ketika sakit ada loh perlindungan tanpa harus bingung mikirin biaya berobat, yaitu JKN. Selain itu, ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa membantu orang lain,” ungkap Rosi.
Baca Juga:Capaian UHC Hadirkan Harapan Hidup Baru bagi Penyintas Gagal Ginjal di Kota BandungDekatkan Layanan JKN, Dukung Program Siskamling Siaga Desa Kota Bandung
Dalam sehari, Rosi melakukan tiga hingga lima kunjungan, bahkan meningkat menjadi 10–15 kunjungan saat akhir pekan. Tantangan terbesarnya justru muncul saat mendatangi warga di perumahan elit. Selain akses yang tertutup, ia kerap hanya diterima ART atau bahkan dikejar anjing penjaga. Padahal, Rosi memahami bahwa keberlanjutan Program JKN juga ditopang oleh gotong royong masyarakat mampu yang sehat melalui pembayaran iuran.
”Sebenarnya edukasi tentang BPJS Kesehatan itu sudah banyak, cuman terkadang literasinya kurang, mereka tidak mau baca, tidak mau lihat, tidak mau mencari tahu. Jadi Kader JKN yang jemput bola, kunjungan ke rumah warga atau ketika ada kegiatan di balai desa seperti posyandu pun saya sisipkan untuk edukasi JKN,” tutur Rosi.
Upaya tersebut tidak selalu membuahkan hasil instan. Sebagian warga baru tergerak saat benar-benar membutuhkan layanan kesehatan, sebagian lainnya cenderung abai karena merasa belum perlu. Kondisi ini menuntut kesabaran Kader JKN untuk terus mengingatkan bahwa risiko sakit dapat datang kapan saja.
Namun di balik semua itu, Rosi menilai manfaat menjadi Kader JKN jauh melampaui tantangan yang dihadapinya, baik bagi dirinya yang ingin berdaya di luar perannya sebagai ibu rumah tangga, maupun bagi masyarakat luas.
