KURASI MEDIA – Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Demokrat, Saeful Bachri, menggelar kegiatan silaturahmi tokoh dan warga dalam program “Dewan Menyapa Warga Berbasis Budaya” di Lapangan Komplek Griya Prima Asri (GPA) Rencong, Baleendah, Kabupaten Bandung, Minggu (29/3/2026) sore.
Dalam kesempatan tersebut, Saeful menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali.
Menurutnya, program ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara wakil rakyat dengan masyarakat sekaligus mengangkat nilai-nilai budaya lokal.
Baca Juga:Hadir di Rapat Paripurna DPRD, Ali Syakieb Tekankan Pentingnya Regulasi Komprehensif Pengelolaan Aset DaerahAnggota Pansus 14 DPRD Kota Bandung Minta Raperda Pencegahan dan Pengendalian Seksual Tetap dalam Koridor
“Alhamdulillah hari ini kita menyelenggarakan kegiatan rutin kita ya, tiga bulan sekali. Dewan menyapa warga dengan budaya,” ujar Saeful.
Ia menjelaskan, kegiatan kali ini dikolaborasikan dengan momentum halal bihalal mengingat masih dalam suasana bulan Syawal.
Selain itu, acara juga diisi dengan pertunjukan budaya pencak silat sebagai upaya pelestarian budaya daerah.
“Nah kebetulan kita kolaborasi dengan masyarakat di sini, karena ini masih bulan Syawal. Jadi sekalian halal bihalal dengan warga,” katanya.
Saeful menegaskan pentingnya mendorong eksistensi pencak silat di setiap daerah. Ia menilai, setiap wilayah memiliki perguruan atau guru pencak silat yang perlu mendapat perhatian agar tidak tergerus zaman.
“Kenapa kita dorong budaya pencak silat untuk semakin eksis, karena tiap daerah punya guru pencak silat yang harus kita perhatikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Saeful mengakui bahwa pelestarian budaya di kalangan generasi muda saat ini menghadapi tantangan tersendiri, terutama di era digital.
Baca Juga:Pansus DPRD Kota Bandung Percepat Pembahasan Ranperda Pencegahan dan Pengendalian Perilaku Seks BerisikoAnggota Pansus 14 DPRD Kota Bandung Minta Raperda Pencegahan dan Pengendalian Seksual Tetap dalam Koridor
Ia menyebut, generasi milenial dan Gen Z cenderung kurang dekat dengan budaya tradisional sehingga diperlukan pendekatan yang lebih kreatif.
“Memang tantangan tersendiri ya kalau masalah budaya di kalangan gen Z. Kita sebagai penggiat budaya harus punya kreativitas,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dan media sosial menjadi kunci untuk menarik minat generasi muda terhadap budaya, termasuk pencak silat.
Ia mendorong setiap paguron atau perguruan pencak silat untuk aktif mempublikasikan kegiatan mereka di platform digital.
“Harus ada sentuhan kekinian, kemudian dikenalkan ke media sosial. Paguron ini harus punya media sosial, setiap tampil atau latihan di-up terus supaya anak-anak muda tahu,” jelasnya.
