BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang

BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang
BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Awal dan Panjang (Foto: Ilustrasi:freepik)
0 Komentar

KURASI MEDIA – Masyarakat Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi sepanjang 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.

Fenomena ini dipicu oleh kemungkinan munculnya El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat, yang diperkirakan memiliki probabilitas sekitar 50–60 persen pada pertengahan tahun.

Dampaknya cukup luas. Sebanyak 451 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia, diprediksi akan mengalami kemarau dengan sifat “bawah normal”, yang berarti kondisi akan jauh lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.

Baca Juga:Cuaca Hari Ini Jumat 10 April 2026: BMKG Prediksi Hujan di Banyak Kota BesarInfo Terbaru! Jalur Mandiri Unpad 2026 Dibuka, Ini Detailnya

Kepala BMKG, Faisal, menegaskan bahwa sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia juga akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Pola Pergerakan Musim Kemarau 2026

April 2026: Awal Kekeringan

Wilayah selatan mulai terdampak, termasuk pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, serta hampir seluruh D.I. Yogyakarta. Bali, NTB, NTT, dan sebagian Sulawesi Selatan juga mulai merasakan kondisi kering.

Mei 2026: Kemarau Meluas

Kemarau mulai mendominasi sebagian besar wilayah Jawa dan meluas ke Sumatera bagian selatan, termasuk Lampung, Riau, dan Sumatera Selatan. Beberapa wilayah Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua juga mulai terdampak.

Juni 2026: Perluasan ke Kalimantan & Maluku

Wilayah seperti Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, serta sebagian besar Kalimantan dan Maluku mulai memasuki fase kemarau yang lebih stabil.

Juli–Agustus 2026: Puncak Kekeringan

Agustus menjadi periode paling kritis. Wilayah Sulawesi hingga Papua Pegunungan mengalami puncak kemarau dengan intensitas tinggi.

Ancaman Serius: Krisis Air hingga Karhutla

BMKG mengingatkan bahwa kemarau kering ekstrem berpotensi menimbulkan berbagai dampak serius, di antaranya:

  • Krisis air bersih akibat berkurangnya sumber air
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena vegetasi sangat kering
  • Penurunan kualitas udara akibat debu dan asap
  • Gangguan kesehatan masyarakat, terutama ISPA
  • Langkah mitigasi yang perlu dilakukan antara lain:
  • Percepatan perbaikan waduk, embung, dan sistem distribusi air
  • Peningkatan pemantauan titik panas di Sumatera dan Kalimantan
  • Penyediaan fasilitas kesehatan dan masker bagi masyarakat
  • Tantangan Besar bagi Ketahanan Pangan
0 Komentar