Ironisnya, suara rakyat yang menuntut keadilan kembali dihadapkan dengan aparat. Bentrokan tak terhindarkan, bahkan memakan korban. Situasi ini menambah daftar panjang problem demokrasi di negeri ini. Pertanyaan pun muncul: apakah suara rakyat sungguh didengar, atau justru dibungkam dengan cara lama yang berulang?
Di bulan yang seharusnya penuh makna kemerdekaan, rakyat justru kembali ditekan oleh kepentingan segelintir elite. Pada titik inilah, lagu “Peradaban” menjadi pengingat: kemerdekaan sejati bukan hanya perayaan seremonial, melainkan keberanian memperjuangkan keadilan. Liriknya yang berbunyi “suatu saat nanti tanah air kembali berdiri, suatu saat nanti kita memimpin diri sendiri” menghadirkan harapan bahwa bangsa ini masih bisa bangkit jika rakyat bersatu.
“Peradaban” adalah suara rakyat yang enggan dibungkam. Ia mengajak kita untuk tetap teguh walau jalan penuh rintangan. Ironi di bulan kemerdekaan, ketika rakyat masih harus turun ke jalan menuntut hak, seharusnya menjadi bahan refleksi. Peradaban Indonesia hanya akan bertahan bila demokrasi dijalankan sungguh-sungguh dan keadilan ditegakkan. Selama rakyat berani bersuara, peradaban itu takkan pernah mati.