KURASI MEDIA – Mozambik sedang dilanda salah satu bencana banjir paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal musim hujan pada Oktober 2025, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 125 orang. Banjir besar ini merendam wilayah selatan dan tengah negara tersebut, menghancurkan permukiman, lahan pertanian, serta infrastruktur vital.
Luapan Sungai Inkomati memaksa banyak warga menyelamatkan diri ke atap rumah bahkan memanjat pohon demi bertahan hidup. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi dalam kondisi serba terbatas.
Dampak Banjir Kian Meluas, Ratusan Ribu Warga Terdampak
Dilansir dari Radarpena, Berdasarkan laporan National Institute for Disaster Risk Management and Reduction, lebih dari 642.000 orang terdampak banjir yang terjadi sejak 7 Januari 2026. Dalam periode tersebut saja, tercatat 12 korban jiwa, menambah panjang daftar korban selama musim hujan.
Baca Juga:Ini Alasan Bojan Hodak Memilih Dion Markx untuk Memperkuat PersibLaLiga 2025/26: Atletico Madrid Menang 3-0, Pangkas Jarak dengan Barcelona
Bencana ini menyebabkan ribuan rumah terendam, memutus jalur transportasi utama termasuk jalan nasional N1 yang menjadi penghubung antardaerah. Dampaknya, pasokan bahan pangan dan bahan bakar mulai langka di sejumlah wilayah. Banyak warga kehilangan seluruh harta benda mereka.
Seorang petani berusia 67 tahun dari Hobjana mengungkapkan bahwa banjir menghancurkan seluruh sumber penghidupannya.
“Kami kehilangan segalanya Rumah, televisi, kulkas, pakaian, hingga ternak sapi, kambing, dan babi,” tuturnya.
Operasi Evakuasi Berpacu dengan Waktu
Upaya penyelamatan terus dilakukan dengan melibatkan tim evakuasi internasional dari Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris. Mereka membantu mengevakuasi warga dari daerah yang masih terendam dan berisiko tinggi.
Namun, proses evakuasi tidak selalu berjalan mulus. Sebagian warga memilih bertahan di rumah mereka meski kondisi semakin berbahaya. Wali Kota Marracuene, Shafee Sidat, mengimbau masyarakat agar mengikuti arahan tim penyelamat demi keselamatan bersama.
Sekolah dan gereja dialihfungsikan menjadi pusat pengungsian sementara yang kini menampung sekitar 4.000 pengungsi. Meski demikian, keterbatasan logistik, makanan, dan fasilitas dasar masih menjadi persoalan serius, terutama bagi anak-anak.
Ancaman Gelombang Banjir Susulan Masih Mengintai
Kondisi semakin mengkhawatirkan karena hujan deras di wilayah Afrika Selatan berpotensi memicu pelepasan air dari bendungan di hulu Sungai Inkomati. Mozambik, sebagai wilayah hilir terakhir sebelum sungai bermuara ke Samudra Hindia, berada dalam posisi paling rentan.
