“Perempuan itu butuh pelindung, bukan orang yang menyakiti. Menikah bukan sekadar status, tapi harus ada rasa sayang dan kasih,” katanya.
Menurutnya, rumah tangga semestinya menjadi tempat yang memberikan rasa aman dan kenyamanan, bukan ruang yang dipenuhi rasa takut dan tekanan batin.
“Perempuan juga berhak dicintai dan dihargai. Jangan sampai rumah tangga justru menjadi tempat yang penuh ketakutan,” ujarnya.
Baca Juga:45 Kode Redeem FC Mobile 17 Mei 2026: Banjir Hadiah Akhir Pekan, Buruan Klaim Sebelum Hangus!Creator Playdate Vici Society Ramaikan Bandung, Ratusan Kreator Konten Belajar Bangun Personal Branding
Sementara itu, Koordinator Teman Film, Jeane, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat sebagai wadah aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman sekaligus membangun keberanian melawan kekerasan dalam rumah tangga.
“Sebagian yang hadir memang pernah mengalami KDRT. Ada yang sudah berpisah, ada juga yang masih bertahan dalam rumah tangga. Di sini kita ingin menyuarakan bahwa perempuan harus berani melawan kekerasan,” katanya.
Jeane menjelaskan, peserta berasal dari berbagai komunitas perempuan di Bandung maupun kota lainnya.
Mereka berkumpul tidak hanya untuk menyaksikan film, tetapi juga saling menguatkan dan menyebarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak boleh dianggap sebagai hal yang normal.
Ia berharap pesan yang dibawa film tersebut dapat membuka perspektif masyarakat, khususnya kaum laki-laki, agar lebih menghargai perempuan dalam kehidupan rumah tangga.
“Perempuan itu sosok yang lembut. Jadi jangan dikasari. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat aman dan penuh kasih sayang,” pungkasnya. (*)
