Selain kadar LDL-C, pasien diabetes juga diketahui memiliki risiko kardiovaskular residual yang dipengaruhi perubahan karakteristik partikel kolesterol akibat resistensi insulin. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien tetap memiliki risiko tinggi meski kadar LDL-C sudah berada pada angka yang sama dengan pasien lain, sehingga diperlukan pendekatan pengelolaan lipid yang lebih presisi.
Panduan internasional terbaru pun mulai mengarahkan praktik klinis ke pendekatan tersebut. Dalam ACC/AHA Guideline 2026, pengukuran kolesterol non-HDL dan apolipoprotein B (ApoB) direkomendasikan sebagai penanda tambahan untuk menilai risiko pada pasien diabetes tipe 2 maupun cardiovascular-kidney-metabolic (CKM) syndrome.
Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, dari Eka Hospital BSD dan SS Diabetic Care, mengatakan, “Dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes tipe 2 sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular, sehingga penurunan LDL-C menjadi salah satu prioritas terapi yang penting.”
Baca Juga:Gedebage Jazz Festival International 2026 Resmi Digelar, Indra Lesmana-Sydney Reunion Siap Guncang SummareconNasDem Minta Transisi BPR Transparan, Proyek Rp477 Miliar dan Raperda Sampah Dikawal Ketat
Ia menambahkan, “Untuk meningkatkan tingkat pencapaian target LDL-C yang saat ini masih rendah pada pasien berisiko tinggi, strategi terapi perlu disesuaikan dan dioptimalkan berdasarkan profil risiko kardiovaskular masing-masing pasien. Panduan internasional terbaru, termasuk ESC/EAS 2025 Focused Update dan ACC/AHA Guideline 2026, secara konsisten mendukung penurunan LDL-C yang intensif, inisiasi terapi penurun lipid berbasis bukti secara lebih dini, serta pencapaian target LDL-C secara cepat.”
Menurutnya, “Rekomendasi tersebut memperkuat konsep bahwa semakin rendah kadar LDL-C dicapai sejak dini dan dipertahankan lebih lama, semakin besar pula potensi penurunan risiko kardiovaskular sepanjang hidup pasien.”
Sementara itu, pembicara internasional dari Division of Endocrinology Inha University Hospital, Korea Selatan, Prof. Da Hea Seo, menjelaskan bahwa terapi kombinasi dapat menjadi pilihan bagi pasien yang belum mencapai target pengobatan.
“Pengelolaan dislipidemia pada pasien diabetes tipe 2 membutuhkan pendekatan komprehensif yang mencakup pengendalian LDL-C. Bagi pasien yang sulit mencapai target terapi dengan monoterapi, terapi kombinasi yang secara bersamaan menargetkan sintesis dan absorpsi kolesterol dapat menjadi salah satu pilihan terapi,” ujarnya.
CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
