Rektor Unisba, A. Harits Nu’man, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi OJK dan Republika dalam menghadirkan seminar ini.
Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam membekali mahasiswa dengan literasi keuangan agar mampu menghadapi tantangan era digital.
“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengelola keuangan. Dengan literasi keuangan yang kuat, mereka dapat membangun masa depan yang lebih berdaya saing dan berkontribusi bagi bangsa,” ujar Harits Nu’man.
Baca Juga:OJK Jawa Barat Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Bagi Penyandang Disabilitas Melalui Program DIA KITAGerindra Dorong Bandung Tinggalkan Cara Konvensional Tangani Sampah
Dalam sesi pemaparan materi, Yuzirwan menyampaikan pentingnya peran OJK dalam melindungi masyarakat.
OJK bersama Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) terus memperkuat edukasi dan pengawasan serta mengajak masyarakat untuk melaporkan aktivitas keuangan ilegal melalui kanal resmi OJK maupun Indonesia Anti-Scam Centre (IASC).
Seminar tersebut juga menghadirkan akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba Sri Fadila serta psikolog Ilmi Hatta.
Sri Fadila menekankan pentingnya penguatan literasi keuangan di lingkungan pendidikan, sementara Ilmi Hatta menjelaskan pentingnya memahami aspek psikologis yang sering kali memengaruhi perilaku konsumtif dan pengambilan keputusan keuangan.
Sementara itu, Perwakilan Satgas Anti Rentenir Kota Bandung, Soni Sonjaya, mengajak peserta untuk semakin waspada terhadap berbagai modus pinjaman ilegal dan praktik rentenir yang merugikan masyarakat, serta mendorong generasi muda agar lebih mengutamakan akses pembiayaan melalui lembaga jasa keuangan yang legal, berizin, dan diawasi OJK.
Menutup kegiatan, Darwisman menegaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membedakan layanan keuangan yang legal dan ilegal, tetapi juga mencakup pembentukan perilaku keuangan yang sehat, disiplin mengelola pengeluaran, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan.
Dengan pemahaman tersebut, generasi muda diharapkan mampu membangun ketahanan finansial yang kuat dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*)
