Kredit Tumbuh di Atas Industri, BRI Jaga Kualitas Aset dengan Pertumbuhan Selektif dan Prinsip Kehati-hatian

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti
0 Komentar

Sejalan dengan membaiknya NPL dan LaR, Cost of Credit (CoC) BRI juga turun dari 3,4% pada Q2 2025 menjadi 3,1% pada akhir Triwulan II 2026. Perbaikan CoC menunjukkan bahwa peningkatan kualitas aset turut berdampak positif terhadap biaya risiko perseroan.

Di sisi lain, BRI memiliki keunggulan berupa jaringan yang tersebar luas dan basis nasabah yang terdiversifikasi. Karakteristik tersebut memungkinkan BRI membangun portofolio kredit yang terdiversifikasi secara geografis maupun sektoral sehingga memperkuat daya tahan perseroan dalam menghadapi dinamika perekonomian.

Pengelolaan kualitas kredit tersebut juga menjadi penting mengingat UMKM merupakan core business BRI. Bagi BRI, besarnya eksposur UMKM bukan hanya sebagai instrumen untuk memperluas inklusi keuangan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan, tetapi juga sebagai portofolio bisnis yang harus dikelola secara sehat dengan disiplin pemantauan risiko yang kuat.

Baca Juga:Telkom Perkuat Kolaborasi Pentahelix, Persiapkan Kedaulatan Digital di UniversitasTelkom Hadirkan EduMind Wellbeing dan AI Camp di Makassar, Diikuti 350 Peserta

“Model bisnis berbasis UMKM memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena langsung menyentuh aktivitas produktif masyarakat. Pada saat yang sama, kami terus membuktikan bahwa portofolio tersebut dapat dikelola dengan tingkat risiko yang memadai. Dengan pengelolaan risiko yang disiplin, UMKM dapat terus menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan BRI sekaligus memperkuat kontribusi perseroan terhadap ekonomi kerakyatan,” pungkas Ety.

Perbaikan kualitas aset tersebut turut menopang kinerja BRI yang solid. Hingga Triwulan II 2026, total aset BRI Group mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7% YoY, sementara penyaluran kredit tumbuh 16,2% YoY menjadi Rp1.646 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasian perseroan tercatat sebesar Rp31,2 triliun atau meningkat 17,5% YoY.

0 Komentar