Penggunaan standar global tersebut menjadi bagian dari upaya BRI untuk meningkatkan kualitas informasi keberlanjutan yang disampaikan kepada pemangku kepentingan, sekaligus memperkuat keterkaitan antara isu keberlanjutan, strategi, tata kelola, dan manajemen risiko perusahaan. Dengan demikian, aspek ESG semakin terintegrasi dalam pengelolaan perusahaan dan menjadi salah satu pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Selain penguatan pada aspek pengungkapan, BRI juga menerjemahkan prinsip keberlanjutan ke dalam aktivitas pembiayaan. Dalam penerbitan Social Bond, BRI mengacu pada Social Bond Principles dan pengukuran serta pelaporan dampak sosialnya mengacu pada Harmonised Framework for Impact Reporting for Social Bonds yang diterbitkan oleh International Capital Market Association (ICMA).
Penerapan pedoman tersebut diwujudkan melalui penerbitan Social Bond BRI Tahap I pada 2025 dan Tahap II pada 2026, masing-masing senilai Rp5 triliun. Berdasarkan Impact Report Social Bond BRI 2025, pemanfaatan dana dari penerbitan Tahap I melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes berkontribusi terhadap penciptaan sekitar 59.000 lapangan kerja UMKM serta mendukung peningkatan aset usaha pada sekitar 23.000 nasabah.
Baca Juga:RUPSLB Telkom 2026 Setujui Spin-Off InfraCo dan Perubahan Pengurus, Tunjuk Dirut Baru PerseroanHonda Daya Jayadi Racing Team Tuntaskan Perjuangan di Seri Terakhir Kejurnas Motoprix 2026
“Ke depan, BRI akan terus meningkatkan kualitas penerapan ESG dengan memperhatikan perkembangan standar global serta tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Kami ingin memastikan setiap pertumbuhan yang diciptakan BRI memiliki fondasi yang kuat, memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Hery.
