Tak berhenti pada penyediaan energi surya bagi masyarakat pedesaan, BRI Peduli juga memperluas dukungan elektrifikasi ke wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Sumatera. Sebanyak 1.416 unit perangkat tenaga surya portabel disalurkan untuk mendukung pemulihan pascabencana, terdiri atas 522 unit di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dan 894 unit di Kabupaten Aceh Timur.
Bantuan ini menjadi sumber penerangan dan pengisian daya perangkat komunikasi bagi keluarga terdampak, terutama ketika pasokan listrik belum sepenuhnya pulih, sehingga masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari selama masa pemulihan.
Manfaat energi surya juga terus diperluas hingga ke desa binaan BRI Peduli Desa BRILiaN melalui penyaluran 40 unit perangkat tenaga surya portabel. Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau 1.456 kepala keluarga (KK) sebagai penerima manfaat langsung serta 8.376 jiwa sebagai penerima manfaat tidak langsung. Di balik angka tersebut, kehadiran energi surya mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat, pelayanan publik, hingga keberlangsungan usaha di tingkat desa.
Baca Juga:Jangan Asal Menyalip! Pahami Cara Aman Mendahului Kendaraan di Jalan RayaTelkom Perkuat ESG lewat Keanggotaan UN Global Compact dan Program Zero Waste to Landfill
Manfaat sosial tersebut juga berjalan beriringan dengan kontribusi terhadap lingkungan. Dengan total kapasitas terpasang sekitar 600 kWp, Program BRI Peduli Energi Surya berpotensi menghasilkan 585 MWh listrik bersih setiap tahun sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 491,2 ton setara CO₂ (tCO₂e) per tahun.
Dampak yang dirasakan masyarakat tersebut juga menjadi perhatian BRI dalam menjalankan program sosial yang tidak hanya berorientasi pada penyediaan bantuan, tetapi juga pada manfaat jangka panjang.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa perluasan akses energi bersih merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mendukung pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pemanfaatan energi bersih memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi, mendorong pembangunan desa, serta menjaga keberlangsungan kegiatan masyarakat, termasuk saat terjadi gangguan pasokan listrik maupun bencana alam. Terlebih dalam situasi pascabencana, keberadaan sumber energi alternatif dapat membantu masyarakat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus mendukung pemulihan kehidupan sosial dan ekonominya secara bertahap,” ujar Dhanny.
