Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk menggunakan akal. Hal ini tampak dalam ungkapan afalā ta‘qilūn (apakah kamu tidak berpikir?) dan ulul albab (orang-orang yang berakal).
Pesan ini menegaskan betapa pentingnya berpikir dan merenung. Kita diajak untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, memahami makna di balik setiap peristiwa, serta menggunakan akal untuk membedakan kebenaran dan merencanakan masa depan dengan bijak. Dalam Al-Qur’an, surat Ali Imran ayat 190, Allah berfirman;
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Artinya; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal”.
Baca Juga:EJ Sport Dukung BTN Jakarta International Marathon 2026 sebagai Official Sports Nutrition & 10K Presenting ParPercepatan Penanggulangan Banjir, Bupati Bandung Bentuk Satgas Bangli Sempadan Sungai dan Tim Pentahelix
Keempat adalah hati atau roso, pusat rasa dan kesadaran batin yang mengatur emosi, kepekaan, dan nilai-nilai moral. Dari hati lahir kasih sayang, empati, dan ketulusan, tapi juga bisa muncul kecenderungan negatif seperti iri atau sombong.
Kondisi hati sangat memengaruhi cara kita merespons kehidupan. Hati yang terjaga membuat kita lebih mudah merasakan ketenangan, keikhlasan, dan kebijaksanaan.
Sebaliknya, hati yang dipenuhi sifat negatif dapat membentuk sikap dan perilaku yang kurang baik. Hati adalah kompas batin manusia.
Jadi semakin hati manusia bersih dan terlatih, semakin bijak pula langkah yang kita ambil dalam hidup. Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kelima adalah ruh atau sukmo. Ruh merupakan unsur terdalam dalam diri kita yang bersifat ilahiah dan menjadi sumber kehidupan. Ruh tidak bekerja dalam bentuk emosi seperti hati, melainkan menjadi penghubung antara kita dengan Allah swt.
Jika hati berkaitan dengan rasa dan dinamika batin sehari-hari, maka ruh berkaitan dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, seperti makna kehadiran, tujuan hidup, dan hubungan dengan Allah.
Baca Juga:Update Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Kamis 16 April 202625 Kode Redeem FC Mobile Kamis 16 April 2026: Klaim Paket Pemain OVR Tinggi Secara Cuma-Cuma!
Hati dan ruh memiliki peran yang berbeda. Hati mengelola rasa dan kecenderungan batin, sedangkan ruh menjadi sumber kehidupan sekaligus arah spiritual yang membimbing manusia menuju makna yang lebih tinggi.
