Ratusan KK di Garut Kesulitan Air Bersih, Krisis Kekeringan Kembali Melanda Desa Cintanagara

Ratusan KK di Garut Kesulitan Air Bersih, Krisis Kekeringan Kembali Melanda Desa Cintanagara
Ratusan KK di Garut Kesulitan Air Bersih, Krisis Kekeringan Kembali Melanda Desa Cintanagara
0 Komentar

KURASI MEDIA – Ratusan kepala keluarga (KK) di Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, kembali mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau yang berlangsung sejak Juni 2026. Sedikitnya 482 KK yang tersebar di tujuh kampung terdampak kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari karena sejumlah sumber mata air mengering.

Berdasarkan pendataan relawan di lapangan, wilayah yang terdampak meliputi Kampung Samayuda (55 KK), Siderang Pasir (68 KK), Jolok Lebak (82 KK), Jolok Tonggoh (65 KK), Sukaresmi 1 (82 KK), Sukaresmi 2 (67 KK), dan Kampung Sangiang (63 KK).

Kondisi tersebut mendorong Tevis Foundation kembali menyalurkan 20.000 liter air bersih kepada warga terdampak pada Sabtu (18/7/2026). Distribusi pekan ini difokuskan ke tiga titik, yakni Kampung Sukaresmi 1, Sukaresmi 2, dan Sangiang. Penyaluran ini merupakan distribusi kedua yang dilakukan lembaga tersebut sepanjang musim kemarau tahun 2026.

Baca Juga:Perkuat Keandalan Jaringan, PLN Icon Plus SBU Regional Jabar Laksanakan P3AK di Jalur Cintalaksana KarawangMeriahkan BTV Semesta Berpesta, ICONNET Hadirkan Internet Andal dan Promo Menarik bagi Masyarakat 

Menurut tim lapangan Tevis Foundation, distribusi dilakukan karena kebutuhan air bersih masyarakat masih belum terpenuhi dan belum tersedia sumber air alternatif yang dapat dimanfaatkan warga.

“Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Selama kemarau masih berlangsung dan warga masih membutuhkan bantuan, kami akan terus berupaya melakukan distribusi sesuai kemampuan yang kami miliki,” ujar Khoerudin, Tim Lapangan Tevis Foundation.

Sejak pagi, warga tampak mengantre membawa jeriken, ember, dan berbagai wadah penampung air untuk mendapatkan pasokan dari mobil tangki. Distribusi dilakukan secara bergotong royong oleh relawan bersama masyarakat setempat.

Salah seorang warga mengatakan bantuan tersebut sangat membantu karena ketika distribusi belum datang, mereka harus berjalan cukup jauh untuk memperoleh air bersih.

“Kalau tidak ada bantuan seperti ini, kami harus berjalan sekitar tiga kilometer ke kampung sebelah. Jalannya menanjak dan cukup terjal. Air yang kami bawa pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut relawan sekaligus warga setempat, Amir, kekeringan di kawasan tersebut bukan merupakan kejadian baru, melainkan bencana yang hampir terjadi setiap musim kemarau.

“Kekeringan sudah menjadi bencana tahunan di sini. Sampai sekarang penanganan yang dirasakan masyarakat masih sebatas distribusi air bersih menggunakan mobil tangki. Belum ada solusi jangka panjang agar warga memiliki akses air yang memadai saat musim kemarau,” kata Amir.

0 Komentar