Sebab sejarah menunjukkan bahwa kebebasan tidak selalu dirampas sekaligus.
Kebebasan yang Menyusut Perlahan
Kebebasan lebih sering menyusut perlahan. Satu kewenangan tambahan, satu pengecualian lagi, satu ruang sipil lagi, dan semuanya tampak masuk akal bila berdiri sendiri.
Namun, ketika disusun menjadi satu cerita, kita mulai melihat sebuah arah yang tidak lagi dapat dianggap kebetulan.
Negara semakin hadir, rakyat semakin “diurus”, dan perlahan, republik semakin bergeser dari ruang dialog menuju ruang komando.
Baca Juga:Tevis Foundation Gelar Pelatihan Gratis untuk Guru Ngaji dan Madrasah di Kabupaten BandungGEKRAFS Kota Bandung Resmi Dilantik, Kolaborasi Jadi Kunci Pertahankan Status Kota Kreatif Dunia
Mungkin tidak ada yang benar-benar menyadari kapan perubahan itu dimulai, sebagaimana tidak ada rumah yang runtuh karena satu retakan.
Rumah runtuh karena retakan-retakan kecil yang terlalu lama dianggap biasa.
Republik pun demikian.
Republik tidak kehilangan dirinya ketika negara menjadi kuat. Republik kehilangan dirinya ketika negara lupa bahwa kekuatannya hanya sah sejauh negara tidak mengambil alih ruang yang seharusnya tetap menjadi milik rakyat.
Masihkah Republik Ini Percaya kepada Rakyat?
Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang berhasil atau gagalnya satu program, bukan pula tentang setuju atau tidak setuju terhadap satu undang-undang.
Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah:
Masihkah republik ini masih percaya bahwa rakyat adalah pemiliknya?
Atau jangan-jangan, tanpa benar-benar kita sadari, republik ini perlahan sedang belajar hidup tanpa rakyat sebagai subjeknya. (**)
