Program tersebut membantu meningkatkan kemampuan mendengar dan memahami bahasa Mandarin. Khafidz bersama beberapa peserta lainnya juga berhasil lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin yang menjadi salah satu modal penting untuk melanjutkan pendidikan di China.
Di tengah persiapannya menuju China, Khafidz mendapatkan informasi mengenai beasiswa santri Jawa Tengah melalui LFSP. Setelah mempelajari persyaratan dan tahapan seleksi, ia merasa bekal pendidikan yang diperolehnya selama mondok dapat membantunya mengikuti proses tersebut. Ia pun memberanikan diri mendaftar. Kemudian tahapan demi tahapan ujian ia lalui dengan baik.
Kabar kelulusannya sebagai penerima beasiswa santri Jawa Tengah kemudian disampaikan oleh ibunya. Khafidz menyambut kabar itu dengan penuh rasa syukur.
Baca Juga:Peringati HSN 2026, Ahmad Luthfi Ajak 555 Ribu Santri Jateng Ikut Entaskan KemiskinaLibatkan Ribuan Atlet, Porprov Jateng 2026 Jadi Angin Segar Bagi UMKM dan Perhotelan di 5 Daerah
“Beasiswa Santri Jawa Tengah memudahkan saya dan teman-teman penerima lainnya dalam mengurangi beban finansial yang harus ditanggung oleh diri sendiri dan orang tua,” tuturnya.
Ia menambahkan, dukungan keluarga, para ustaz, dan teman-teman pesantren juga menjadi sumber motivasi yang membuatnya terus berjuang ketika menghadapi kesulitan.
Kini, Khafidz menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Dalian University of Technology. Bagi dia, kehidupan di luar negeri menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan saat tinggal di pesantren. Jika dahulu ia terbiasa bangun tidur bersama teman-teman dan menjalani aktivitas ibadah secara berjamaah, kini ia harus membiasakan diri menjalani rutinitas secara mandiri. Pengalaman tersebut sekaligus memperluas wawasannya. Ia berkesempatan menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara, mempelajari pola kehidupan dan cara berpikir yang berbeda, serta mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan di lingkungan kampus, termasuk klub yang berkaitan dengan robotika.
Bagi Khafidz, pengalaman belajar di luar negeri bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, melainkan juga membangun kemandirian, memperluas jaringan, dan belajar menghargai perbedaan.
Ia berharap ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di China kelak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat serupa juga ditunjukkan Happy Aisyi Madina, penerima beasiswa santri Jawa Tengah yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.Bagi Aisyi, kesempatan memperoleh beasiswa tersebut merupakan amanah besar sekaligus peluang berharga untuk melanjutkan pendidikan dan membantu meringankan beban finansial keluarganya.
