KURASI MEDIA – Berawal dari keinginan sederhana untuk belajar bahasa Mandarin saat duduk di bangku kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs), Akhmad Khafidz Al Mubarok kini berhasil mewujudkan mimpinya menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.
Santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan, Kabupaten Kudus Jawa Tengah, itu kini tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, China.
Perjalanan Khafidz hingga menginjakkan kaki di Negeri Tirai Bambu tidak lepas dari ketekunan belajar, dukungan keluarga dan lingkungan pesantren, serta kesempatan yang diperolehnya melalui program beasiswa santri Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).
Baca Juga:Peringati HSN 2026, Ahmad Luthfi Ajak 555 Ribu Santri Jateng Ikut Entaskan KemiskinaLibatkan Ribuan Atlet, Porprov Jateng 2026 Jadi Angin Segar Bagi UMKM dan Perhotelan di 5 Daerah
Bagi Khafidz, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan. Lebih dari itu, program tersebut menjadi penopang penting bagi keluarganya agar ia dapat melanjutkan studi di luar negeri tanpa harus menambah beban finansial orang tua.
“Terima kasih kepadakepada Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang telah menyelenggarakan program beasiswa santri,” ucapnya saat dihubungi dari Kota Semarang pada Rabu, 22 Oktober 2026.
Kisah Khafidz menjadi gambaran bahwa santri memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan diri, tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam bidang sains dan teknologi. Melalui dukungan pendidikan yang tepat, cita-cita melanjutkan studi hingga ke tingkat internasional bukan lagi sesuatu yang mustahil.
Keinginan Khafidz untuk kuliah di luar negeri bermula dari percakapan telepon dengan ayahnya ketika ia masih duduk di kelas IX MTs. Di tengah percakapan tersebut, sang ayah menyarankannya untuk mulai belajar bahasa Mandarin. Menurut ayahnya, kemampuan berbahasa Mandarin dapat membuka peluang lebih luas bagi pengembangan karier dan masa depannya.
Pesan sederhana itu kemudian menjadi titik awal perjalanan panjang Khafidz. Ia mulai belajar menulis, membaca, memahami nada pengucapan, hingga menghafalkan kosakata bahasa Mandarin secara mandiri. Perjuangannya tidak mudah. Di lingkungan pesantren, bahasa yang diwajibkan adalah bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Khafidz harus mempelajari bahasa Mandarin tanpa guru pendamping dan dengan keterbatasan akses penggunaan gawai. Beruntung, ia memiliki teman yang juga tertarik mempelajari bahasa Mandarin. Keduanya kemudian belajar bersama, saling membantu memahami materi dan menjaga semangat agar terus berkembang. Saat duduk di kelas XII, Khafidz mendapat tawaran dari LP Ma’arif NU Jawa Tengah untuk mengikuti program persiapan kuliah ke China. Bersama sejumlah pelajar lain dari Jawa Tengah yang memiliki cita-cita serupa, ia mendapatkan kesempatan belajar bahasa Mandarin dengan bimbingan pengajar yang kompeten, termasuk penutur asli.
