Menaklukkan Lintasan Slamet Trail Run 2026: Kala Jalur Ekstrem Berjumpa Keramahan Warga

Menaklukkan Lintasan Slamet Trail Run 2026: Kala Jalur Ekstrem Berjumpa Keramahan Warga
Menaklukkan Lintasan Slamet Trail Run 2026: Kala Jalur Ekstrem Berjumpa Keramahan Warga
0 Komentar

KURASI MEDIA – Sepotong hari di Minggu, 25 Oktober 2026 menjadi pengalaman yang sulit dilupakan bagi Devi. Perjalanan satu kilometer menjelang puncak Gunung Slamet menjadi perjuangan panjang baginya. Pelari asal Tangerang itu membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk melewati jalur berpasir yang membuat langkahnya berkali-kali merosot.

Belum selesai menghadapi medan, betisnya juga terluka akibat terkena batu yang jatuh dari atas.

Ya. Devi sedang mengikuti kategori 45K dalam Slamet Trail Run 2026 di kawasan Guci, Kabupaten Tegal. Ia harus mengerahkan tenaga ekstra untuk melewati lintasan yang tak bisa ditaklukkan hanya dengan berlari cepat.

Baca Juga:Bukan Sekadar Kompetisi, Porprov Jateng XVII Diproyeksikan Jadi Pijakan Prestasi Atlet Menuju PON 2028Kebakaran Gunung Sumbing Padam, Ahmad Luthfi Minta Percepat Rehabilitasi

“Jadi seperti kita naik 2 (langkah) turun 1 (langkah). Perosot lagi, naik lagi, turun lagi. Terus, kaki juga sempat kena bongkahan batu dari atas jadi agak sobek,” begitu ia menggambarkan sulitnya jalur berpasir tersebut.

Meski harus menghadapi medan berat dan sempat mengalami cedera, pengalaman itu tetap meninggalkan kesan mendalam bagi Devi. Ia berhasil menjadi pelari perempuan pertama yang finis di kategori 45K setelah menempuh perjalanan sekitar 11 jam. Ini juga menjadi kali kedua dirinya menjajal tantangan Gunung Slamet.

“Slamet Trail Run 2026, keren abis,” katanya.

Bagi Devi, daya tarik lomba ini bukan hanya soal menuntaskan puluhan kilometer lintasan. Sepanjang perjalanan, ia juga menikmati pemandangan alam dan merasakan sambutan hangat warga yang tinggal di sekitar rute.

Ada warga yang memberikan semangat, menawarkan makanan dan minuman, bahkan mengajaknya mampir ke rumah. Hal-hal sederhana itu menjadi pengalaman tersendiri di tengah perjuangan melewati jalur gunung.

Devi memang terbiasa menjadikan ajang lari di luar kota sebagai kesempatan untuk menjelajahi daerah yang dikunjungi. Setelah menyelesaikan lomba, ia tertarik mencicipi kuliner setempat dan menikmati pemandian air panas di Guci.

“Setiap kali saya pulang lari pasti coba wisata kuliner, kita jalan-jalan, keliling-keliling di sini,” katanya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Iis, peserta asal Yogyakarta yang ikut di kategori 25K. Ia datang ke Slamet Trail Run karena sebelumnya pernah mendaki Gunung Slamet melalui jalur Guci dan tertarik mencoba pengalaman berbeda di kawasan yang sama dengan berlari.

0 Komentar