Dari kunjungan tersebut lahir berbagai kolaborasi yang mempertemukan dunia desain, pendidikan, inovasi, dan kebudayaan kedua negara.
Material Library Pertama di Indonesia
Salah satu hasil konkret dari kerja sama tersebut adalah hadirnya Material Library pertama di Indonesia yang berlokasi di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.
Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran desain, tetapi juga berkembang menjadi pusat transdisipliner yang mendokumentasikan berbagai material alami maupun inovatif dari kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga:Peringati Hari Buruh, BPJS Kesehatan Permudah Akses Layanan JKN bagi PekerjaLakukan Pilot Project di Kota Bandung, Kini Urus JKN Bisa di Koperasi Merah Putih
Lebih jauh, Material Library juga menjadi ruang pelestarian kekayaan budaya Nusantara melalui pendokumentasian motif tenun tradisional dan karya kriya dari berbagai daerah. Dengan demikian, warisan budaya lokal dapat terus berdialog dengan praktik desain kontemporer yang berkembang saat ini.
Penone menambahkan, Rikrik Kusmara juga berperan dalam membangun jaringan kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan dan kebudayaan terkemuka di Prancis, seperti Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan École Supérieure d’Art et Design Saint-Étienne.
Ia juga menjadi salah satu tokoh penting dalam program Bandung–Saint-Étienne Design Cities, sebuah program residensi yang mempertemukan kalangan akademisi, pusat riset, pelaku industri, hingga masyarakat sipil dalam berbagai proyek kolaboratif.
Penghormatan untuk Kolaborasi Indonesia-Prancis
Sementara itu, Dr. Rikrik Kusmara mengaku bersyukur sekaligus terhormat atas penghargaan yang diterimanya.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan terhadap pencapaian pribadi, melainkan penghormatan atas perjalanan panjang kerja sama dan pertukaran gagasan antara Indonesia dan Prancis.
“Hari ini merupakan momen yang sangat bermakna dalam perjalanan karier dan profesional saya. Dengan penuh rasa syukur, kerendahan hati, dan kehormatan yang mendalam, saya menerima tanda kehormatan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques yang dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Prancis,” ujarnya.
Rikrik menceritakan bahwa kedekatannya dengan budaya Prancis telah terjalin sejak usia muda. Ia tumbuh di kawasan yang tidak jauh dari Centre Culturel Français (CCF) Bandung yang kini dikenal sebagai Institut Français d’Indonésie (IFI).
