Bagi dirinya, CCF menjadi salah satu jendela yang membuka wawasan masyarakat Bandung terhadap dunia internasional melalui berbagai kegiatan seni, budaya, dan intelektual.
Saat menempuh pendidikan seni di ITB pada awal 1990-an, ia mulai mengenal tradisi pemikiran Prancis melalui pameran seni, pemutaran film, kuliah umum, pertunjukan budaya, hingga berbagai publikasi yang memperkaya perspektifnya.
Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa seni dan kebudayaan bukan hanya soal estetika, melainkan sarana penting untuk memahami masyarakat, membangun dialog, serta membayangkan masa depan yang lebih baik.
Baca Juga:Peringati Hari Buruh, BPJS Kesehatan Permudah Akses Layanan JKN bagi PekerjaLakukan Pilot Project di Kota Bandung, Kini Urus JKN Bisa di Koperasi Merah Putih
Dalam perjalanan kariernya, Rikrik aktif terlibat dalam berbagai pengembangan ekosistem seni dan budaya nasional. Ia bekerja sama dengan kementerian, lembaga pemerintah, komunitas kreatif, hingga institusi kebudayaan dalam berbagai program mulai dari penyusunan kebijakan, penyelenggaraan pameran, festival, hingga pengembangan pendidikan seni.
Ia juga memberikan apresiasi kepada IFI yang selama ini menjadi mitra strategis dalam membuka akses terhadap jaringan akademik dan kebudayaan internasional. Sejak 2013, kerja sama dengan IFI turut mendukung pengembangan Program Magister Seni ITB serta mempertemukan kampus tersebut dengan berbagai institusi pendidikan dan kebudayaan terkemuka di Prancis.
Menurut Rikrik, berbagai kolaborasi tersebut telah melahirkan banyak inisiatif kreatif di Bandung, seperti Bandung Photography Triennale, Bandung Connex, Bandung Design Biennale, Bandung Light Festival, kebangkitan kembali Pasar Seni ITB setelah sebelas tahun vakum, hingga Akulturasa yang memadukan sains, teknologi, dan seni.
Selain itu, ITB juga tengah mempersiapkan peresmian Museum ITB yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juli 2026 mendatang.
“Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa kerja sama kebudayaan bukan hanya tentang pertukaran pengetahuan. Nilai sejatinya terletak pada penguatan institusi, perluasan peluang bagi masyarakat dan generasi muda, pengembangan inovasi, serta penciptaan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Saat ini, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB periode 2025–2030. Selain itu, ia juga merupakan Lektor Kepala di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang tergabung dalam Kelompok Keahlian Seni Rupa.
Perjalanan akademiknya ditempuh sepenuhnya di ITB, mulai dari meraih gelar Sarjana Seni pada 1995, Magister Seni pada 1999, hingga Doktor pada 2011. Sebelum dipercaya menjadi wakil rektor, ia juga pernah mengemban amanah sebagai Dekan FSRD ITB dan berperan aktif dalam pengembangan pendidikan seni dan desain di Indonesia. (*)
