“Literasi bukan hanya tugas sekolah atau pemerintah. Semua pihak harus terlibat agar anak-anak memiliki kemampuan berpikir kritis sekaligus karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan era digital,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang Hari Tri Santosa mengajak orang tua untuk lebih aktif membangun budaya literasi di lingkungan keluarga. Ia menilai kebiasaan membaca dan mendengarkan cerita sejak usia dini menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.
“Menguatkan literasi pada anak harus dimulai sejak dini. Karena ketika sudah dewasa akan lebih sulit membentuk kebiasaan itu. Meski demikian, tidak ada kata terlambat untuk mulai membangun budaya literasi,” kata Hari.
Baca Juga:‘Dan Bandung’ Siap Bikin Baper, Kisah Cinta Beda Kasta Karya Pidi Baiq Hadir di Bioskop Agustus 2026Jawab Pandangan Fraksi DPRD, KDS Tegaskan Komitmen Hadirkan Regulasi Berkualitas
Menurutnya, tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap informasi, melainkan kemampuan masyarakat dalam menyaring dan memanfaatkan informasi secara tepat. Karena itu, penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan pendampingan dan pengawasan dari orang tua.
Hari berharap gerakan literasi yang terus digalakkan di Kabupaten Sumedang tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, keluarga, komunitas, pegiat literasi, dunia pendidikan, dan media, Safari Literasi diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun masyarakat yang lebih gemar membaca, cerdas memanfaatkan teknologi, serta mampu menghadapi tantangan era digital dengan karakter yang kuat dan berintegritas. (**)
