Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra, memaparkan kinerja perseroan. Hingga paruh pertama 2026, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, tumbuh 3,9% YoY. Sementara EBITDA tercatat meningkat 3.8% YoY menjadi Rp37,5 triliun dengan margin 49,4%, dan laba bersih tumbuh 1.4% YoY mencapai Rp10,6 triliun. Secara ternormalisasi, laba bersih mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2% YoY. Kinerja tersebut didukung oleh perbaikan monetisasi bisnis seluler serta disiplin operasional di TelkomGroup.
Di sisi efisiensi, Telkom terus memperkuat disiplin biaya dan alokasi modal untuk memastikan penerapan spesifikasi yang lebih tepat guna. Lebih dari 94% CAPEX dialokasikan untuk bisnis inti pada segmen B2C dan B2B Infrastructure, investasi Perseroan tetap terarah pada area yang memiliki peran strategis terhadap pertumbuhan jangka panjang.
“Secara keseluruhan, hasil Semester I menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan earnings yang tetap positif. Kami juga melihat perkembangan yang semakin baik pada profitabilitas, khususnya pada kuartal kedua. Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mendukung pencapaian target profitabilitas sepanjang tahun,” pungkas Angelo.
Baca Juga:BPJS Kesehatan Beri Penghargaan Kepada Badan Usaha Patuh Regulasi JKNBRI Tegaskan Komitmen Jaga Shareholder Return di Tengah Akselerasi Pertumbuhan Bisnis
Sejalan dengan hal tersebut, Telkom terus mengoptimalkan kekuatan infrastruktur digital sebagai salah satu sumber value creation terbesar. Pada segmen B2B Infrastructure, InfraNexia diarahkan menjadi neutral carrier yang melayani kebutuhan ekosistem TelkomGroup sekaligus membuka ruang pertumbuhan dari pelanggan eksternal. Telkom saat ini mempersiapkan spin-off tahap dua yang diharapkan rampung pada kuartal III 2026 agar InfraNexia dapat sepenuhnya beroperasi sebagai entitas utama yang menggarap bisnis wholesale connectivity TelkomGroup dan menyerap potensi lebih besar.
Optimalisasi juga dilakukan pada bisnis data center. Pada Semester I 2026, pendapatan NeutraDC mencapai Rp867 miliar atau tumbuh 11% YoY, dengan total kapasitas efektif mencapai 49,9 MW. Permintaan terhadap fasilitas hyperscale data center (HDC) tetap kuat, ditandai dengan okupansi HDC Cikarang yang mencapai 96%, sementara HDC Batam ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas awal 6 MW. NeutraDC juga akan terus menambah kapasitas secara disiplin melalui pertumbuhan organik dan strategic partnership.
