Bagi Ziyad, kebiasaan yang dilakukan selama bertahun-tahun di sekolah akhirnya tidak lagi terasa sekadar sebagai aturan.
“Kalau pribadi aku sendiri sih ya udah kebawa. Karena kebiasaan ini jadinya udah nyaman sendiri,” katanya.
Siswa Putra dan Putri Belajar Secara Terpisah
Penerapan nilai Islam juga terlihat dari pengaturan interaksi siswa. Pada jenjang SMP dan SMA, sekolah memisahkan siswa putra dan putri dalam kegiatan pembelajaran.
Baca Juga:Hari Anak Nasional 2026: BRI Peduli Ini Sekolahku Salurkan Bantuan Pendidikan di SDN 104 LangensariAhmad Luthfi Dampingi Prabowo Kunjungi Sekolah di Cilacap, Para Siswa Respons Positif Program MBG
Febrie menjelaskan, kebijakan tersebut berkaitan dengan usia siswa yang mulai memasuki masa pubertas dan balig. Karena itu, sekolah berupaya memberikan lingkungan yang dianggap sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan siswa.
Bagi Ziyad, pemisahan tersebut justru membuat suasana belajar lebih nyaman.
Ia mengatakan siswa menjadi lebih leluasa mengikuti pembelajaran tanpa terlalu memikirkan interaksi dengan lawan jenis.
“Dari segi interaksi mungkin aku lebih nyaman kayak gini. Nggak terlalu terbebani,” ujarnya.
Menurutnya, suasana kelas yang terpisah juga membuat siswa lebih terbuka ketika mengikuti pembelajaran.
“Kalau di SMP ini karena dipisah mungkin jadinya lebih banyak yang terbuka,” kata Ziyad.
Selain pengaturan interaksi, sekolah juga memiliki program pendampingan balig. Program tersebut melibatkan guru agama, wali kelas, psikolog, dokter, dan tenaga kesehatan. Materinya disesuaikan dengan kebutuhan siswa, termasuk persoalan kesehatan dan perubahan fisik maupun tanggung jawab ketika memasuki masa balig.
Guru Tidak Hanya Mengajar
Dalam konsep pendidikan yang diterapkan, Febrie menempatkan guru sebagai salah satu unsur penting dalam perkembangan siswa. Guru tidak hanya dituntut menguasai mata pelajaran, tetapi juga memahami nilai-nilai Islam dan karakter siswa. Sekolah menerapkan sistem pendampingan melalui guru wali yang menangani sejumlah siswa.
Baca Juga:GEKRAFS Kota Bandung Resmi Dilantik, Kolaborasi Jadi Kunci Pertahankan Status Kota Kreatif DuniaYili Indonesia Ajak Generasi Muda Bandung Peduli Lingkungan Melalui Edukasi Daur Ulang Sampah Plastik
Setiap guru mendampingi sekitar 10–11 siswa. Pendampingan dilakukan dalam berbagai aktivitas, mulai dari pembelajaran hingga kegiatan keseharian siswa di sekolah.
Menurut Febrie, pendekatan tersebut diperlukan karena siswa SMP berada dalam fase remaja yang membutuhkan komunikasi dan pendampingan lebih dekat.
Namun, dari sudut pandang siswa, kedekatan antara guru dan murid juga menjadi hal yang perlu terus dikembangkan.
