SMP Islam Cendekia Muda Terapkan Nilai Keislaman dalam Keseharian Siswa

SMP Islam Cendekia Muda Terapkan Nilai Keislaman dalam Keseharian Siswa
Foto: R. Padya/Kurasi Media
0 Komentar

Untuk mengatasinya, ia mencari informasi dan belajar dari pengurus sebelumnya.

“Karena masih baru jadi kurang banyak pengalaman. Akhirnya bingung, mau ngapain nih sebagai ketua OSIS di awal periode. Tapi akhirnya aku cari tahu sendiri bagaimana cara jadi ketua OSIS, tanya-tanya ke ketua OSIS sebelumnya,” ujar Ziyad.

Pada periode kepengurusannya, struktur OSIS juga dibuat dengan melibatkan pengurus putra dan putri. Wakil ketua berasal dari masing-masing kelompok, begitu pula dengan sejumlah divisi. Pengalaman tersebut menjadi salah satu cara bagi siswa untuk belajar mengambil keputusan dan menghadapi persoalan secara langsung.

Dari Pengalaman Sekolah Menuju Rencana Masa Depan

Setelah sembilan tahun bersekolah di Cendekia Muda, pengalaman pendidikan yang dijalani Ziyad turut memengaruhi rencana masa depannya.

Baca Juga:Hari Anak Nasional 2026: BRI Peduli Ini Sekolahku Salurkan Bantuan Pendidikan di SDN 104 LangensariAhmad Luthfi Dampingi Prabowo Kunjungi Sekolah di Cilacap, Para Siswa Respons Positif Program MBG

Ia mengaku sebelumnya tidak terlalu memiliki ketertarikan khusus terhadap pendidikan Islam. Namun, setelah bersekolah di Cendekia Muda, ia mulai tertarik untuk memperdalam agama.

“Kalau sebenarnya enggak juga sih. Tapi setelah ke sini baru,” kata Ziyad.

Setelah lulus SMP, ia berencana melanjutkan SMA di Jawa Tengah. Untuk jenjang perguruan tinggi, ia memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah dan memperdalam ilmu agama melalui pesantren. Di luar bidang keagamaan, Ziyad juga memiliki ketertarikan terhadap arsitektur.

Minat tersebut muncul dari pengalaman mengikuti pembelajaran seni rupa dan membuat gambar perspektif. Ia juga mengaku tertarik pada bidang astronomi.

Bagi Febrie, proses pendidikan tidak dapat hanya diukur dari nilai akademik. Sekolah berupaya mengembangkan kemampuan siswa dalam berbagai aspek, termasuk karakter, keterampilan, kepemimpinan, dan kehidupan keagamaan.

Sekolah juga menyadari bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah. Orang tua dan lingkungan pergaulan memiliki peran dalam membentuk perkembangan siswa. Karena itu, komunikasi dengan orang tua menjadi bagian dari proses pendidikan.

Di tengah perkembangan media sosial dan perubahan lingkungan pergaulan remaja, sekolah berupaya membekali siswa agar memiliki pegangan nilai ketika berada di luar lingkungan sekolah.

Baca Juga:GEKRAFS Kota Bandung Resmi Dilantik, Kolaborasi Jadi Kunci Pertahankan Status Kota Kreatif DuniaYili Indonesia Ajak Generasi Muda Bandung Peduli Lingkungan Melalui Edukasi Daur Ulang Sampah Plastik

Namun, Febrie menegaskan bahwa seluruh program tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pendidikan. Hasil akhir perkembangan seorang siswa tetap dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk keluarga dan lingkungan.

0 Komentar