SMP Islam Cendekia Muda Terapkan Nilai Keislaman dalam Keseharian Siswa

SMP Islam Cendekia Muda Terapkan Nilai Keislaman dalam Keseharian Siswa
Foto: R. Padya/Kurasi Media
0 Komentar

Ziyad berharap guru dapat lebih menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter dan ketertarikan siswa.

“Jangan terbatas sama keahlian guru itu terus. Anak-anak sukanya begini, coba disesuaikan,” ujarnya.

Ia juga menilai kemampuan guru membangun hubungan dengan siswa berpengaruh terhadap ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Baca Juga:Hari Anak Nasional 2026: BRI Peduli Ini Sekolahku Salurkan Bantuan Pendidikan di SDN 104 LangensariAhmad Luthfi Dampingi Prabowo Kunjungi Sekolah di Cilacap, Para Siswa Respons Positif Program MBG

“Bagaimana guru itu beradaptasi atau mengetahui, menjaga hubungan antara guru sama muridnya,” kata Ziyad.

Meski memberikan catatan tersebut, Ziyad mengatakan secara keseluruhan pengalaman bersekolah di Cendekia Muda memberikan banyak hal positif baginya.

Pembelajaran Melalui Proyek

Selain pembelajaran reguler, sekolah mengembangkan kegiatan berbasis proyek untuk memberikan kesempatan kepada siswa menerapkan pengetahuan secara langsung.

Febrie menjelaskan, proyek dilakukan secara berkala dan dapat dikerjakan secara individu maupun kelompok. Siswa diberi ruang untuk menentukan bentuk produk selama tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Salah satu pengalaman yang dialami Ziyad terjadi ketika ia duduk di kelas 8. Saat itu siswa mendapat tugas membuat produk mengenai sistem pernapasan. Ziyad memilih membuat miniatur alveolus.

“Disuruh bikin salah satu organ sistem pernapasan. Aku kebetulan bikin organ alveolus. Bebas mau bikin poster atau mau bikin produk langsung,” tuturnya.

Dalam prosesnya, guru memberikan saran, masukan, dan penilaian. Setelah produk selesai, siswa juga mempresentasikan hasilnya kepada orang tua.

Baca Juga:GEKRAFS Kota Bandung Resmi Dilantik, Kolaborasi Jadi Kunci Pertahankan Status Kota Kreatif DuniaYili Indonesia Ajak Generasi Muda Bandung Peduli Lingkungan Melalui Edukasi Daur Ulang Sampah Plastik

“Guru-guru juga kasih saran, kasih masukan, terus kasih penilaian. Jadi kita juga ada feedback, ada diskusinya. Kita jadi tahu mana yang kurang, mana yang sudah bagus, mana yang perlu dipertahankan,” kata Ziyad.

Menurut Febrie, pembelajaran berbasis proyek tidak hanya bertujuan menghasilkan produk. Siswa juga dilatih untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, manajemen waktu, serta kemampuan menghadapi kegagalan.

Sekolah juga menghadirkan narasumber dari luar untuk memperluas pengalaman belajar siswa. Narasumber tersebut berasal dari berbagai bidang, seperti kesehatan, pemerintahan, dan dunia usaha.

Organisasi Menjadi Ruang Belajar Kepemimpinan

Pengembangan kemampuan siswa juga dilakukan melalui organisasi. Ziyad saat ini dipercaya menjadi ketua OSIS. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan ketika pertama kali menjalankan tugas tersebut karena belum memiliki banyak pengalaman.

0 Komentar