Dari Aksara Lontara Jadi Produk Fesyen, UMKM Makassar Ini Tumbuh Bersama linkumkm by BRI

foto ilustrasi
foto ilustrasi
0 Komentar

“Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Saya mendapat ilmu bagaimana mengatur usaha agar bisa berkembang dan bagaimana mengatur tim supaya lebih produktif,” kata As’ad.

Platform linkumkm by BRI menjadi salah satu bagian dari ekosistem pemberdayaan UMKM BRI yang menyediakan berbagai akses pengembangan kapasitas usaha. Hingga September 2026, jumlah pelaku UMKM yang telah memanfaatkan platform tersebut tercatat mencapai 17,6 juta. Pertumbuhan jangkauan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses pelaku UMKM terhadap sarana pengembangan usaha secara digital.

Bagi As’ad, setiap produk yang dihasilkan Ripuji Lontaratta memang memiliki misi lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan fesyen. Motif aksara Lontara yang digunakan pada produk menjadi media untuk menyampaikan pesan bahwa identitas budaya lokal merupakan sesuatu yang perlu dikenal, dilestarikan, dan dibanggakan.

Baca Juga:Kenali Suara Aneh pada Rem Motor, Jangan DiabaikanPulihkan Pembelajaran Pascagempa Manggarai, Telkom Hadirkan Fasilitas Belajar dan Konektivitas Digital

“Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda. Kami bukan hanya menghadirkan tas dan topi untuk menunjang selera fesyen pelanggan, tetapi juga bercerita melalui motif aksara Lontara bahwa inilah identitas kita yang harus kita lestarikan dan banggakan,” ungkap As’ad.

Dalam menjalankan usahanya, Ripuji Lontaratta juga memanfaatkan QRIS BRI untuk mendukung transaksi dengan pelanggan. Menurut As’ad, kehadiran QRIS BRI memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan pembayaran ketika membeli produk.

Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. As’ad mengaku pernah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pesanan custom yang dibatalkan secara tiba-tiba hingga persaingan usaha yang kurang sehat. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran untuk terus mengevaluasi proses bisnis dan mencari solusi atas setiap persoalan.

Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI M. Candra Utama mengungkapkan pemberdayaan UMKM perlu dilakukan secara menyeluruh karena tantangan pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan permodalan, tetapi juga menyangkut kapasitas manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, hingga kemampuan membaca peluang pasar.

0 Komentar