KURASI MEDIA – Polemik seputar gim daring Roblox yang belakangan ramai diperbincangkan publik turut menarik perhatian Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, atau yang akrab disapa Kak Seto. Ia menekankan, fokus utama seharusnya bukan hanya pada gim tersebut, melainkan pada penguatan peran keluarga, terutama dalam membangun komunikasi yang terbuka.
Dikutip dari fin.id, Kak Seto menilai bahwa yang paling mendesak untuk dibenahi adalah komunikasi dalam keluarga. Ia menyinggung, meski Indonesia memiliki Hari Keluarga Nasional (Harganas) setiap 29 Juli, momen ini kurang mendapat perhatian dan gaungnya masih minim di masyarakat.
Menurut Kak Seto, melabeli atau melarang satu gim saja tidak akan efektif mengatasi masalah. Perkembangan teknologi yang begitu cepat berpotensi memunculkan platform baru dengan tantangan serupa. “Roblox mungkin dilarang, tapi nanti akan muncul gim lain lagi. Kadang-kadang kita kurang cepat bertindak,” ujarnya.
Baca Juga:Terjadi Tragedi Baku Hantam dalam Laga Pramusim Real Betis dan klub Serie A, ComoDoa Penglaris Dagangan Sesuai Sunnah Nabi, Lengkap dengan Tulisan Arab dan Artinya
Ketua LPAI Jakarta, Kasandra Putranto, sependapat. Ia menegaskan, Roblox hanyalah salah satu dari sekian banyak aplikasi digital yang perlu diwaspadai. Selama lebih dari satu dekade, dirinya terus mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua terhadap aktivitas anak di dunia digital.
“Tidak hanya di permainan itu, tapi ada juga aplikasi lain yang harus diwaspadai. Pendampingan orang tua penting sekali, mereka harus tahu persis apa yang anak lakukan, apa yang ditekuninya, serta lingkungannya. Situasi sekarang ini semakin memperkuat apa yang saya sampaikan sebelumnya,” jelas Kasandra.
Lebih lanjut, Kasandra menilai bahwa pemblokiran bukanlah solusi jangka panjang. “Pemblokiran akan sia-sia, kenapa? Karena satu putus, tumbuh seribu. Kita harus membangun resiliensi di keluarga dan masyarakat,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan, dunia digital tidak hanya membawa risiko tetapi juga peluang positif bagi kreativitas dan pembelajaran anak. Meski begitu, kontrol dan bimbingan tetap menjadi tanggung jawab utama orang tua. Kak Seto menutup pernyataannya dengan pesan, “Bahaya jangan dilupakan, tapi yang paling penting adalah membangun komunikasi efektif dalam keluarga.”
