KURASI MEDIA – Ikan sapu-sapu selama ini kerap dianggap tidak layak dikonsumsi, terutama jika berasal dari perairan yang tercemar. Sebagai ikan dasar (bottom feeder), spesies ini hidup dengan memakan lumpur, limbah, serta sisa-sisa organik di dasar perairan. Kebiasaan tersebut membuatnya rentan menyerap berbagai zat berbahaya, termasuk logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium.
Akumulasi zat beracun tersebut dapat berdampak serius bagi kesehatan manusia. Dalam jangka pendek, konsumsi ikan yang terkontaminasi bisa memicu keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, dan diare. Sementara itu, paparan jangka panjang berpotensi menyebabkan gangguan sistem saraf, kerusakan organ, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis.
Meski demikian, ikan sapu-sapu justru dimanfaatkan sebagai bahan pangan di beberapa negara. Di Meksiko, ikan ini dikenal dengan sebutan Pez Diablo dan biasanya diolah menjadi hidangan seperti sup atau taco. Proses memasaknya cenderung lama untuk mengatasi tekstur daging yang keras.
Baca Juga:Setelah 3 Tahun, HET Minyakita Dievaluasi: Ini DampaknyaPrakiraan Cuaca BMKG Kamis 23 April 2026: Hujan Ringan hingga Petir Landa Banyak Kota
Di kawasan Amerika Selatan, ikan ini memiliki beragam nama lokal. Di Venezuela dikenal sebagai Corroncho, di Guyana disebut Hassa, sementara di Trinidad populer dengan nama Cascadoo atau Cascadura. Di beberapa wilayah Brasil, ikan serupa juga disebut tamuatá.
Secara umum, olahan ikan ini disajikan dalam bentuk sup atau rebusan dengan tambahan santan, umbi-umbian, serta berbagai rempah untuk memperkaya cita rasa.
Namun, aspek keamanan konsumsi ikan sapu-sapu sangat bergantung pada kondisi habitatnya. Ikan yang berasal dari perairan bersih atau terkontrol masih berpotensi untuk dikonsumsi. Sebaliknya, ikan yang hidup di lingkungan tercemar memiliki risiko tinggi membawa logam berat, limbah kimia, hingga parasit yang berbahaya bagi manusia.
Di Indonesia, konsumsi ikan sapu-sapu umumnya tidak direkomendasikan tanpa kepastian kualitas lingkungan. Hal ini juga dipengaruhi oleh perbedaan kondisi ekosistem dibandingkan dengan Amerika Selatan. Di habitat aslinya, ikan ini merupakan bagian dari rantai makanan alami dan populasinya dikendalikan oleh predator seperti ikan besar, burung, hingga reptil air.
Sebaliknya, di Indonesia, ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang tidak memiliki banyak predator alami, sehingga populasinya cenderung tidak terkendali dan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.***
