Sumarno menambahkan, Interhash bukan pengalaman baru bagi Jawa Tengah. Provinsi ini pernah menjadi tuan rumah kegiatan serupa pada masa Gubernur Bibit Waluyo.
Kembalinya event internasional ini, menurut dia, menegaskan kawasan Borobudur-Prambanan tetap memiliki daya tarik kuat di mata komunitas olahraga dunia.
Salah satu peserta asal Belanda, Xania Blaire (32), mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya mengikuti Red Dress Run di Magelang.
Baca Juga:Harga Solar Industri Naik, Gubernur Jateng Kawal Aspirasi Nelayan ke Pemerintah PusatTangis Haru Valentina dan Kisah Kebermanfaatan Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng
Ia menyebut keramahan masyarakat serta keterlibatan anak-anak sekolah di sepanjang jalur memberi kesan mendalam.
“My experience, ini bagus sekali. Ada banyak anak-anak di sini, dan mereka pintar berbahasa Inggris,” ujarnya.
Xania mengaku sengaja menghabiskan enam hari untuk mengikuti rangkaian acara Interhash, sebagai bagian dari perjalanan liburannya selama satu bulan di Indonesia.
Interhash sendiri merupakan kegiatan olahraga nonkompetitif yang memadukan jalan santai, lari ringan, petualangan, dan interaksi sosial. Fokus utamanya bukan kecepatan, melainkan kebersamaan serta pengalaman menikmati suasana kota maupun alam.
Setelah kegiatan di Kota Magelang, rangkaian Prambanan Mendut Interhash 2026 akan berlanjut pada 9-10 Mei di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, serta kawasan Candi Plaosan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. (*)
