Ia menambahkan, meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, hingga industri farmasi.
“Indonesia menghadapi beban diabetes yang terus meningkat, sehingga kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan industri menjadi penting untuk meningkatkan kualitas terapi serta luaran jangka panjang pasien,” tambahnya.
Pada sesi ilmiah, Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, bersama Prof. Dr. dr. Hikmat Permana, Sp.PD, K-EMD dari RS Hasan Sadikin Bandung membahas bukti ilmiah mengenai penggunaan terapi tersebut pada populasi Asia.
Baca Juga:Safari Literasi di Sumedang, Kolaborasi Pentahelix Didorong Perkuat Budaya Baca dan Literasi Digital ‘Dan Bandung’ Siap Bikin Baper, Kisah Cinta Beda Kasta Karya Pidi Baiq Hadir di Bioskop Agustus 2026
Menurut Prof. Yong-ho Lee, karakteristik pasien Asia menjadi pertimbangan penting dalam menentukan terapi diabetes yang optimal.
“Terapi baru ini merupakan inhibitor SGLT-2 yang telah didukung oleh bukti klinis yang secara khusus diperoleh pada pasien Asia dengan diabetes melitus tipe 2,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa efektivitas terapi tidak cukup dinilai hanya dari kemampuan menurunkan gula darah.
“Dalam menangani pasien Asia, pemilihan terapi tidak hanya perlu mempertimbangkan efektivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah, tetapi juga dampaknya terhadap parameter metabolik, seperti berat badan dan resistensi insulin,” tambahnya.
Selain peluncuran terapi baru, forum tersebut juga menjadi momentum penguatan kerja sama internasional melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Korean Diabetes Association (KDA) dan Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI).
Kerja sama tersebut bertujuan memperkuat pertukaran akademik, penelitian bersama, serta pengembangan pendidikan medis antara Indonesia dan Korea Selatan di bidang diabetes.
Chairman Korean Diabetes Association, Prof. Sung-rae Kim, menyebut kesepakatan tersebut menjadi fondasi penting bagi kolaborasi jangka panjang kedua negara.
Baca Juga:Jawab Pandangan Fraksi DPRD, KDS Tegaskan Komitmen Hadirkan Regulasi BerkualitasBawa Bekal Positif, Pebalap Binaan Astra Honda Siap Melesat Kencang di Estoril
“MoU ini menghubungkan dua komunitas medis yang memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan perawatan diabetes melalui penelitian ilmiah dan pendidikan,” katanya.
Ia menambahkan, kerja sama tersebut akan membuka lebih banyak peluang kolaborasi di masa mendatang.
“Kami akan terus menciptakan peluang yang bermakna untuk pertukaran akademik melalui penelitian bersama dan kolaborasi pendidikan.”
Sementara itu, CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara penting dalam pengembangan kerja sama ilmiah perusahaan di kawasan Asia.
