Bentuk ketakwaan kita sebagai umat Islam hari ini adalah dengan mengakui bahwa kemerdekaan adalah nikmat Allah yang besar dan tidak sepantasnya kita lupakan atau abaikan.
Kesadaran ini harus menumbuhkan rasa syukur yang dalam dalam diri kita semua.
Kemudian syukur atas kemerdekaan tidak cukup hanya dengan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata.
Baca Juga:Teks Khutbah Jumat: Dzolim pada Tetangga Karena AyamTeks Khutbah Jumat 1 Agustus: Perhatian Islam Terhadap Kesehatan Badan
Mensyukuri kemerdekaan berarti menggunakan kebebasan yang ada untuk melakukan amal saleh, meningkatkan kualitas diri dan masyarakat, serta ikut menjaga keutuhan bangsa.
Ketika takwa menuntun hati, dan syukur mewarnai tindakan, maka Insyaallah kita akan menjadi generasi yang tidak hanya menikmati kemerdekaan, tetapi juga bertanggung jawab untuk mengisinya dengan hal-hal yang diridhai Allah SWT.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus merupakan momentum yang sarat makna bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hari spesial ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan perjuangan panjang para pahlawan bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.
Menyongsong peringatan ke-80 kemerdekaan tahun ini, semangat kebangsaan harus terus digaungkan melalui rasa syukur yang mendalam dan diwujudkan dalam karya nyata demi kemajuan bangsa.
Rasa syukur atas kemerdekaan bukan hanya diwujudkan dalam ucapan, tetapi lebih dalam, harus tertanam dalam kesadaran kolektif sebagai bangsa.
Syukur atas kemerdekaan mendorong kita untuk tidak menyia-nyiakan apa yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Baca Juga:Teks Khutbah Jumat 1 Agustus 2025: Didiklah Anak dengan Cinta dan ImanTeks Khutbah Jumat 25 Juli 2025: Ketika Malu Hilang, Perbuatan Dosa Menjadi Biasa
Syukur berarti menjaga, merawat, dan melanjutkan estafet perjuangan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Allah telah mengingatkan:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’du: 11)
Dalam Kitab Tafsir Jami’ul Bayan fi ta’wilil Qu’ran atau yang terkenal dengan Kitab Tafsir At-Thabari Juz 16 halaman 382 disebutkan, dalam ayat ini Allah mengingatkan semua bahwa manusia itu sebenarnya sudah dalam kebaikan dan kenikmatan.
Allah tidak akan mengubah kenikmatan-kenikmatan seseorang kecuali mereka mengubah kenikmatan menjadi keburukan sebab perilakunya sendiri, di antaranya dengan bersikap zalim dan saling bermusuhan kepada saudaranya sendiri.
