Menurutnya, menerjemahkan puisi klasik Jerman bukanlah pekerjaan sederhana. Dibutuhkan pemahaman mendalam terhadap bahasa, konteks sejarah, serta nuansa filosofis yang terkandung dalam setiap bait.
Karena itu, ia memberikan penghargaan tinggi kepada Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser yang dinilai berhasil menghadirkan keindahan puisi-puisi Jerman ke dalam bahasa Indonesia tanpa kehilangan ruh dan makna aslinya.
Antologi ini memuat karya sejumlah penyair legendaris Jerman seperti Johann Wolfgang von Goethe, Friedrich Schiller, Friedrich Nietzsche, hingga Rainer Maria Rilke. Nama-nama tersebut dikenal sebagai tokoh penting yang membentuk lanskap sastra dan filsafat Eropa modern.
Baca Juga:KSEI Gandeng BEI dan KPEI Edukasi Investor Bandung, Investor Muda Jadi Motor Pasar Modal Indodana PayLater Perkuat Ekosistem Bisnis Jawa Barat, Ajak Merchant Manfaatkan Social Commerce dan Pembiayaan
Bagi Berthold Damshäuser, proyek ini merupakan puncak dari perjalanan panjang yang telah ia bangun bersama Agus R. Sarjono selama lebih dari dua dekade. Keduanya secara konsisten menjembatani hubungan sastra Indonesia dan Jerman melalui berbagai kegiatan penerjemahan, penelitian, serta pertukaran budaya.
Dalam sesi diskusi, Berthold menjelaskan bahwa karya-karya Goethe, Schiller, maupun Nietzsche bukan sekadar puisi yang indah secara estetis, tetapi juga merupakan rekaman perjalanan pemikiran yang membentuk identitas masyarakat Jerman hingga saat ini.
“Puisi-puisi tersebut menyimpan sejarah intelektual yang masih relevan untuk dipelajari dan dipahami oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Di sisi lain, Agus R. Sarjono mengungkapkan bahwa proses penerjemahan karya-karya tersebut membutuhkan ketelitian tinggi dan berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata, melainkan menghadirkan kembali jiwa puisi agar tetap hidup dalam bahasa Indonesia.
“Kami berusaha mentransfer ruh, ritme, dan kedalaman makna puisi-puisi itu agar tetap dapat beresonansi dengan pembaca Indonesia tanpa kehilangan karakter aslinya,” jelas Agus.
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam peluncuran tersebut adalah puisi “Tujuh Meterai” karya Friedrich Nietzsche. Dalam salah satu baitnya, Nietzsche menggambarkan keabadian sebagai sosok perempuan ideal yang dicintainya.
Baca Juga:Ahmad Luthfi Antarkan Jawa Tengah Raih Penghargaan Pengendalian Inflasi dari KemendagriHaris Rasakan Manfaat Nyata Layanan JKN saat Kondisi Darurat
Puisi berjudul “Tujuh Meterai” ini terdiri dari tujuh bait yang cukup Panjang sebagai berikut:
Oh, bagaimana aku tak
syahwatkan keabadian
Dan cincin kawin segala
